DI TENGAH statistik pertumbuhan ekonomi nasional yang konsisten bertahan di kisaran lima persen dan klaim rekor realisasi investasi, ada noktah merah yang kian mencolok dalam lanskap ketenagakerjaan nasional.
Perekonomian tampak melaju di atas kertas, tapi saluran transmisinya menuju penciptaan lapangan kerja berkualitas bagi angkatan kerja terdidik mengalami penyumbatan yang cukup parah.
Gelar sarjana yang selama puluhan tahun diyakini sebagai tiket emas menuju mobilitas sosial vertikal dan pekerjaan formal yang layak kini justru berubah menjadi penanda rentannya posisi pencari kerja.Data Badan Pusat Statistik (BPS) per Februari 2025, merekam sinyal bahaya tersebut secara gamblang.
Dari total 7,28 juta penganggur di Indonesia, populasi penganggur terdidik dari jenjang Diploma IV hingga Doktoral (S3) telah menembus angka 1.010.652 orang.
Angka ini menandai rekor tertinggi dalam kurun waktu empat tahun terakhir dan mengonfirmasi bahwa krisis kesempatan kerja bagi sarjana bukan lagi riak sementara, melainkan persoalan struktural yang makin mengakar.














