ADA sebuah paradoks besar dalam perjalanan ekonomi Indonesia selama satu dekade terakhir.
Indonesia berhasil menurunkan kemiskinan, memperbesar ukuran ekonomi, membangun infrastruktur, memperluas akses digital, dan mempertahankan pertumbuhan sekitar 5 persen.Tetapi pada saat sama, kelompok yang seharusnya menjadi simbol keberhasilan pembangunan, kelas menengah, justru mengalami penyusutan.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan perubahan yang patut menjadi alarm.
Pada 2019, Indonesia memiliki sekitar 57,33 juta penduduk kelas menengah, atau 21,45 persen dari populasi.
Pada 2024, jumlah itu turun menjadi 47,85 juta, atau hanya 17,13 persen. Artinya, dalam lima tahun hampir 9,5 juta orang keluar dari kategori kelas menengah.











