TERDAPAT paradoks sedang berlangsung dalam perekonomian Indonesia. Di satu sisi, angka pertumbuhan ekonomi terlihat cukup meyakinkan.
Perekonomian Indonesia tumbuh 5,11 persen sepanjang 2025, meningkat dari 5,03 persen pada 2024.Bahkan pada triwulan I-2026, ekonomi tumbuh lebih tinggi, yakni 5,61 persen secara tahunan.
Konsumsi masyarakat masih menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan, dengan kontribusi sumber pertumbuhan konsumsi rumah tangga mencapai 2,94 persen pada triwulan tersebut.
Namun, di balik angka-angka makroekonomi tersebut, ada pertanyaan yang jauh lebih mendasar yaitu siapa sebenarnya menikmati dan menopang pertumbuhan tersebut?
Pertanyaan ini penting karena ekonomi Indonesia selama ini sangat bergantung pada kekuatan pasar domestik.






