LAPORAN Kompas baru-baru ini, kembali membunyikan alarm keras bagi perekonomian dan sistem pendidikan nasional, khususnya pendidikan tinggi.
Grafik kemiskinan berdasarkan tingkat pendidikan di Indonesia menunjukkan tren peningkatan.
Lulusan diploma dan sarjana—kelompok masyarakat yang diharapkan menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi berbasis pengetahuan (knowledge-based economy)—justru menjadi angkatan baru yang problematik.Angkatan ini semakin banyak jumlahnya, tertahan di ruang tunggu pasar kerja.
Fenomena ini melahirkan paradoks sosial-ekonomi. Pendidikan tinggi yang secara normatif diyakini sebagai "tiket emas" mobilitas sosial vertikal kini perlahan bergeser menjadi investasi yang berisiko tinggi.
Ketika angka kelulusan kampus terus diproduksi secara massal setiap tahunnya, penyerapan energi kerja bernilai tinggi justru mengalami penurunan daya tampung. Dengan kata lain, lulus perguruan tinggi bukan jalan tol menuju pekerjaan!















