TURUNNYA tingkat pengangguran terbuka menjadi 4,65 persen sekilas membawa angin segar.
Angka ini mencatatkan rekor terendah dalam tiga dekade terakhir. Namun, di balik selebrasi statistik tersebut, tersimpan sebuah ironi getir.Sebanyak 1,03 juta sarjana di Indonesia justru menanggung status pengangguran.
Porsi penganggur terdidik ini melonjak tajam dalam beberapa tahun terakhir, menegaskan sebuah fenomena paradox yang memprihatinkan.
Masalah utama ketenagakerjaan kita hari ini sejatinya bukan lagi sekadar ketersediaan lapangan kerja, melainkan kualitas dari pekerjaan itu sendiri.
Dengan 59 persen tenaga kerja yang menggantungkan hidup di sektor informal dan 47,89 juta jiwa berada dalam kategori setengah penganggur, pasar kerja kita sedang menyajikan pekerjaan yang makin jauh dari kata layak.











