HUBUNGAN Amerika Serikat dan Israel memasuki babak renggang yang jarang tampak begitu terbuka.
Pemicunya adalah kerangka kesepakatan damai AS–Iran yang tengah dirundingkan untuk mengakhiri perang sejak 28 Februari 2026, mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz dan pembicaraan nuklir bertahap (Kompas.com, 25/5/2026).
Persoalannya, Israel sama sekali tidak diajak ke meja itu. Seorang pejabat senior Israel terang-terangan menyebut rancangan tersebut “buruk”, sebab khawatir Hormuz dibuka tanpa jaminan pengekangan nuklir Iran, sekaligus mencairnya aset Teheran yang dinilai bakal memperkuat sang rival.Draf nota kesepahaman bahkan memuat klausul mengakhiri perang Israel–Hizbullah di Lebanon, butir yang langsung dikeluhkan Netanyahu kepada Presiden Donald Trump lewat sambungan telepon (Axios, 24/5/2026).
Kegusaran itu tidak berhenti di lingkar politik. Sejumlah pejabat militer Israel justru bersikap lebih berhati-hati ketimbang para politikusnya.
Kepala Staf Militer Eyal Zamir, misalnya, menentang rencana Netanyahu menduduki seluruh Gaza karena khawatir pasukan terjebak dan nyawa para sandera terancam.











