Jakarta -

Ketegangan Amerika Serikat (AS) dan Iran belum benar-benar terlihat ujungnya. Kedua pihak masih saling serang kala kesepakatan damai belum menemui titik terang.Perang AS dan Iran pecah sejak 28 Februari 2026. Perang bermula saat AS dan Israel melancarkan serangan gabungan ke infrastruktur milter Iran hingga meninggalnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.Tiga bulan sudah aksi saling serang berlangsung. Padahal upaya penyelesaian perang ini sudah dimulai dilakukan lewat perundingan damai tingkat tinggi di Islamaabad, Pakistan pada Sabtu (11/4). Rangkaian gencatan senjata sempat dilakukan. Negosiasi damai berkali-kali dilanjutkan namun hingga hari ini belum dicapai kesepakatan bersama.Alotnya Negosiasi DamaiNegosiasi tidak berjalan mudah. Kedua pihak kukuh dengan masing-masing tawaran yang diajukan. Proses negosiasi yang sudah berjalan lebih dari sebulan, diwarnai diplomasi keras, saling ancam, hingga baku serang yang tak terelakkan.Perunding utama Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, memperingatkan bahwa AS tidak dapat dipercaya. Ghalibaf mengatakan Teheran tidak akan menyetujui kesepakatan apa pun dengan Washington sampai hak-hak rakyat Iran sepenuhnya dijamin."Kami tidak akan menyetujui perjanjian apa pun sampai kami yakin bahwa hak-hak rakyat Iran telah ditegakkan," tegas Ghalibaf dalam sebuah video yang disiarkan oleh televisi pemerintah Iran, seperti dilansir AFP, Senin (1/6/2026).Ghalibaf, yang juga menjabat ketua parlemen Iran ini, menambahkan bahwa para negosiator Iran "tidak mempercayai kata-kata musuh maupun janji-janjinya".Pernyataan itu disampaikan setelah laporan media-media AS, seperti New York Times (NYT) dan Axios, pada Sabtu (30/5) menyebut Presiden AS Donald Trump telah mengirimkan versi revisi dari kerangka kerja perdamaian yang diusulkan, yang berisi persyaratan yang "lebih keras", untuk dipertimbangkan oleh Iran.