OLEH banyak pengamat, perjanjian damai sementara antara Amerika Serikat dan Iran yang ditandatangani 18 Juni 2026, dipandang sebagai salah satu pergeseran geopolitik paling penting di Timur Tengah sejak Revolusi Iran 1979.

Setelah puluhan tahun bermusuhan, perang terbatas yang berlangsung beberapa bulan, justru berakhir bukan dengan kemenangan militer salah satu pihak, melainkan dengan kesepakatan politik yang membuka kembali jalur diplomasi, menghentikan permusuhan, dan memulai pembicaraan mengenai masa depan kawasan.

Perubahan tersebut memunculkan satu pertanyaan yang segera mengemuka: apakah perdamaian antara Washington dan Teheran akan mendorong lahirnya musuh bersama baru, yaitu Israel?Pertanyaan itu tampak logis, tapi masih sangat awal. Selama beberapa dekade, Iran menempatkan Israel sebagai lawan utama dalam retorika politik luar negerinya. Pada saat yang sama, Israel merupakan sekutu strategis terdekat Amerika Serikat di Timur Tengah.

Jika hubungan AS-Iran membaik, sementara hubungan AS-Israel mengalami ketegangan, maka sebagian pihak membayangkan kemungkinan terbentuknya konfigurasi baru yang mengisolasi Israel.

Namun, realitas politik Timur Tengah jauh lebih kompleks dibanding sekadar logika “musuh dari musuh adalah teman”.