SEORANG lulusan teknologi pangan yang mengolah makanan di dapur rumah, sarjana pertanian yang membudidayakan bibit, atau lulusan akuntansi yang menerima jasa pembukuan bagi warung-warung kecil, kerap dianggap belum memperoleh pekerjaan yang pantas.
Gelar sarjana seolah-olah baru menemukan tempat terhormat setelah pemiliknya mengenakan kartu identitas pegawai, bekerja di gedung perkantoran, dan menerima gaji tetap setiap bulan.
Pandangan semacam itu ikut membentuk antrean panjang pencari kerja berpendidikan tinggi.Banyak lulusan menunggu rekrutmen aparatur sipil negara, badan usaha milik negara, atau perusahaan besar, sementara peluang di luar pagar sektor formal dipandang sebagai pilihan terakhir, bahkan penanda kegagalan pendidikan.
Data ketenagakerjaan terbaru memberi alasan untuk meninjau kembali cara pandang tersebut. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Tingkat Pengangguran Terbuka pada Mei 2026 sebesar 4,65 persen, turun tipis dari 4,68 persen pada Februari 2026.
Di balik penurunan itu masih terdapat 7,22 juta penganggur, sebanyak 1,03 juta orang atau 14,31 persen di antaranya merupakan lulusan D4, S1, S2, dan S3 (BPS, 2026).








