BELUM lama ini, dunia pendidikan tinggi dikejutkan oleh semakin banyaknya perusahaan yang tidak lagi menempatkan ijazah sebagai syarat utama dalam proses rekrutmen.
Di berbagai sektor, mulai dari teknologi, industri kreatif, pemasaran digital hingga analisis data, kemampuan nyata seseorang sering kali dinilai lebih penting dibandingkan gelar yang tercantum di dalam curriculum vitae.
Perubahan ini tidak terjadi secara tiba-tiba. Ia merupakan bagian dari transformasi besar yang sedang berlangsung di pasar kerja global.Pertanyaannya bukan lagi apakah perubahan itu akan sampai ke Indonesia, melainkan seberapa siap perguruan tinggi Indonesia menghadapinya.
Selama puluhan tahun, masyarakat memandang pendidikan tinggi sebagai jalur utama untuk memperoleh pekerjaan yang lebih baik.
Banyak keluarga rela menginvestasikan sebagian besar sumber daya keuangannya demi memastikan anak-anak mereka dapat meraih gelar sarjana.












