SELAMA puluhan tahun, masyarakat dibentuk oleh keyakinan bahwa pendidikan formal merupakan tangga utama menuju mobilitas sosial.

Anak-anak didorong untuk bersekolah setinggi mungkin dengan harapan memperoleh pekerjaan layak, pendapatan stabil, dan status sosial yang lebih baik.

Dalam banyak keluarga, terutama di negara berkembang seperti Indonesia, gelar akademik bukan sekadar simbol pendidikan, melainkan simbol perjuangan ekonomi keluarga.Tidak sedikit orang tua yang mengorbankan tabungan, menjual aset, bahkan berutang demi memastikan anaknya memperoleh gelar sarjana.

Namun, lanskap dunia kerja global kini sedang mengalami pergeseran yang cukup fundamental.

Sejumlah perusahaan multinasional mulai mengurangi ketergantungan pada persyaratan gelar akademik dan lebih menekankan pada kemampuan nyata yang dapat dibuktikan oleh pelamar.