ADA satu bangunan yang tidak pernah benar-benar dibangun dengan batu, beton, atau baja. Bangunan itu bernama hukum.

Ia berdiri di atas sesuatu yang jauh lebih rapuh sekaligus lebih kokoh: kepercayaan. Selama rakyat percaya bahwa hukum ditegakkan tanpa membedakan nama, jabatan, dan kekuasaan, bangunan itu akan tetap tegak.

Sebaliknya, ketika keyakinan itu mulai pudar, retakan pertama sesungguhnya telah muncul, meski gedung-gedung pengadilan masih berdiri megah dan palu hakim masih terdengar setiap hari.Perhatian publik belakangan ini kembali tertuju pada perkara yang melibatkan pejabat penegak hukum. Apa pun hasil akhirnya, proses hukum harus dihormati dengan menjunjung asas praduga tak bersalah.

Namun, peristiwa semacam ini selalu menghadirkan pertanyaan yang melampaui nasib seseorang. Yang dipertaruhkan bukan hanya status hukum individu, melainkan kewibawaan lembaga yang selama ini menjadi sandaran pencarian keadilan.

Korupsi yang menyentuh lingkungan penegak hukum selalu menghadirkan luka berbeda. Ketika pelanggaran dilakukan oleh mereka yang memang ditugaskan untuk menegakkan hukum, masyarakat tidak sekadar melihat adanya dugaan tindak pidana.