SETIAP kali sebuah kasus korupsi besar terungkap, reaksi publik hampir selalu sama.

Kita marah, kecewa, mengutuk pelakunya, lalu berharap hukuman yang berat dapat memberikan efek jera.Namun, beberapa bulan kemudian, kasus serupa kembali muncul dengan aktor yang berbeda.

Siklus ini berulang begitu sering hingga memunculkan pertanyaan yang jauh lebih mendasar daripada sekadar siapa yang korup: mengapa kita terus melahirkan koruptor?

Pertanyaan ini penting karena koruptor tidak lahir dari antah berantah.

Mereka lahir dari keluarga, sekolah, organisasi, birokrasi, partai politik, perusahaan, dan lingkungan sosial yang kita tinggali bersama.