HUBUNGAN Amerika Serikat (AS) dan Kuba yang tak harmonis selama tujuh dekade lamanya sejak rezim Fulgencio Batista yang didukung oleh Amerika Serikat terguling pada 1959 kembali mengalami peningkatan ketegangan dalam beberapa bulan terakhir.

Sejak tergulingnya rezim Nicolas Maduro di Venezuela, Kuba mengalami krisis energi yang dalam seperti kelangkaan bahan bakar dan pemadaman listrik secara massal akibat terhentinya pasokan energi dari Venezuela.Sementara itu, AS di bawah Trump semakin meningkatkan tekanan terhadap Kuba, mulai dari pengetatan embargo komersial dan sanksi perdagangan, hingga ancaman untuk mengambil alih Kuba secara militer sebagaimana yang diterapkan di Venezuela.

Sejak berakhirnya rezim komunis Uni Soviet, sekaligus penanda berakhirnya perang dingin pada dekade 1990-an, secara geopolitik relasi AS dan Kuba sangat potensial mencair dan mengalami normalisasi.

Ketidaksukaan rezim di AS pada waktu itu—JF Kennedy, terhadap Kuba murni didasari oleh pilihan politik pemimpin Kuba pada masa itu—Fidel Casto, yang menjalin poros kerja sama Havana-Moskwa.

Baca juga: Menanti Ketegasan Presiden