TEHERAN, KOMPAS.com - Negara-negara penghasil energi di kawasan Teluk Persia mulai menghadapi kenyataan bahwa Iran memiliki kendali sangat besar atas Selat Hormuz.
Meski tidak terlalu menyukainya, sejumlah pejabat Teluk menilai kesepakatan tersebut tetap lebih baik daripada Iran dan Amerika Serikat kembali terlibat eskalasi militer, menurut laporan The Wall Street Journal, Senin (10/8/2026).Pasalnya, eskalasi baru dikhawatirkan akan memicu serangan yang lebih luas terhadap infrastruktur energi mereka.
Baca juga: Murka, Trump Balik Tuntut Iran Bayar Kompensasi atas Kerusakan Puluhan Tahun
Adapun Selat Hormuz merupakan jalur vital bagi perdagangan energi dunia. Sebelum konflik, sekitar 20 juta barel minyak dan produk minyak setiap hari melewati perairan tersebut.
Kini, aktivitas pengiriman melalui Hormuz merosot tajam akibat serangan Iran. Berdasarkan data penyedia informasi komoditas Kpler, ekspor minyak mentah melalui selat itu turun menjadi sekitar 2,2 juta barrel per hari pada pekan lalu, dari sekitar 8,5 juta barrel per hari sebulan sebelumnya.











