Jakarta -

Seorang ulama senior yang memimpin Dewan Kebijakan Iran menegaskan bahwa Republik Islam tersebut tidak akan melepaskan kendalinya atas Selat Hormuz dalam keadaan apa pun.Ayatollah Sadegh Amoli Larijani, yang badan legislatifnya bertanggung jawab untuk menyelesaikan perselisihan antara badan-badan legislatif tertinggi Iran, mengatakan bahwa kedaulatan atas Hormuz adalah milik Republik Islam itu."Kita tidak akan menyerah dalam keadaan apa pun, dan Selat Hormuz tidak akan kembali ke kondisi sebelumnya," katanya pada hari Minggu (9/8) waktu setempat, dilansir media Iran, Press TV, Senin (10/8/2026).

Otoritas Iran mulai membatasi transit melalui Selat Hormuz pada awal Maret lalu, beberapa hari setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan perang terhadap negara tersebut. Iran dan AS menandatangani nota kesepahaman (MoU) pada bulan Juni lalu, yang memungkinkan Iran untuk mengelola selat tersebut dan secara bertahap mengembalikan transit ke tingkat normal, sebagai imbalan atas pencabutan sanksi dan blokade AS terhadap negara tersebut.Namun, Iran memberlakukan kembali pembatasan di Selat Hormuz setelah AS melanggar ketentuan MoU dengan berupaya melemahkan pengelolaan Iran atas jalur perairan utama di Teluk Persia yang bertanggung jawab atas seperlima pasokan minyak global tersebut.Amoli Larijani mengatakan satu-satunya cara agar transit di Hormuz kembali normal adalah dengan AS dan sekutunya menerima mandat Iran untuk mengendalikan jalur air tersebut."Jika mereka menginginkan jalur bebas, mereka harus mematuhi ketentuan MoU," katanya.Ulama senior tersebut mengatakan bahwa AS telah mencoba menekan Iran melalui blokade angkatan laut dan dengan membatasi aksesnya ke perdagangan internasional.