WAFATNYA Ayatollah Ali Khamenei pada awal 2026 menandai berakhirnya satu era penting dalam sejarah Republik Islam Iran.

Selama hampir empat dekade memimpin negara itu, Khamenei bukan hanya menjadi pemegang otoritas politik tertinggi, tetapi juga simbol ideologis Revolusi Islam 1979. Karena itu, ketika kabar kematiannya muncul di tengah perang terbuka antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat, dunia tidak hanya menyaksikan berakhirnya kepemimpinan seorang tokoh, melainkan juga memasuki babak baru politik Timur Tengah.

Menariknya, di tengah berbagai ulasan mengenai perjalanan hidup Khamenei, muncul kembali sebuah kisah yang memperlihatkan kedekatannya dengan Indonesia.

Dalam memoarnya Cell No. 14 (2021), Khamenei menceritakan, ketika menjadi tahanan politik pada era Shah Mohammad Reza Pahlavi, ia pernah mengutip pidato Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, untuk menjelaskan pentingnya persatuan di tengah perbedaan agama dan ideologi.

Kisah tersebut memperlihatkan bagaimana gagasan Konferensi Asia-Afrika di Bandung tahun 1955 mampu melampaui ruang dan waktu.