TEHERAN, awal Juli 2026. Lautan manusia berbalut hitam memadati jalur sepanjang hampir 20 kilometer di jantung ibu kota Iran.
Otoritas memperkirakan 15 hingga 20 juta orang turun mengiringi jenazah Ayatollah Ali Khamenei (pemimpin tertinggi yang gugur bersama sejumlah anggota keluarganya, termasuk seorang cucu berusia 14 bulan), dalam serangan udara gabungan Amerika-Israel pada 28 Februari 2026 (CBS News, 6/7/2026).Ini prosesi terbesar sejak wafatnya pendiri Republik Islam, Ayatollah Khomeini, pada 1989.
Namun di tengah gelombang duka itu, dari Washington dan Tel Aviv terdengar suara yang sama sekali tak sejalan dengan bahasa berkabung.
Presiden Donald Trump menyatakan Amerika “akan menang, dengan satu atau lain cara,” seraya memberi Iran “libur seminggu” dari meja perundingan (Newsweek, 6/7/2026).
Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, lebih dingin lagi: “Sang penghancur telah dihancurkan,” dan pemimpin Iran mana pun yang kembali menempuh jalan itu “akan dilenyapkan” (JNS, 6/7/2026; The Times of Israel, 6/7/2026).









