KOMPAS.com – Iran diperkirakan akan menghadapi kesulitan menjual persediaan minyaknya meskipun sanksi ekspor dicabut, karena permintaan dari pembeli utama, China, melemah di tengah meningkatnya pasokan global, menurut sejumlah analis.Ketua Emeritus FGE NexantECA, Fereidun Fesharaki, mengatakan China, yang selama ini menjadi pembeli utama minyak Iran, kini tidak menunjukkan minat besar untuk meningkatkan impor minyak.
"Faktanya, China tidak menunjukkan antusiasme untuk membeli banyak minyak dari siapa pun," kata Fesharaki dalam program "Squawk Box Asia" CNBC.
Impor minyak mentah China terus menurun sejak pecahnya konflik Iran pada akhir Februari. Pada Mei 2026, impor minyak negara itu tercatat sebesar 7,82 juta barel per hari, turun 29 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya dan menjadi level terendah sejak Februari 2018, berdasarkan data Wind Information.
Sementara itu, impor minyak China dari Iran pada Juni dilaporkan turun lebih dari 50 persen dibandingkan bulan sebelumnya menjadi sekitar 654 ribu barel per hari, menurut Bloomberg.
Analis menilai konflik di Timur Tengah justru mendorong China mempercepat transisi energi. Laporan Institute for Security and Development Policy (ISDP) yang berbasis di Stockholm menyebut konflik tersebut memperkuat fokus strategis Beijing untuk memperluas penggunaan energi nonfosil.











