Jakarta - Sekitar 20 juta barel minyak mentah Iran mulai diekspor setelah kesepakatan damai dengan Amerika Serikat (AS).Kesepakatan tersebut melonggarkan pembatasan ekspor minyak Iran sekaligus mendorong pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur yang biasanya dilalui sekitar 20% perdagangan minyak dunia.Tambahan pasokan minyak tersebut membuat harga minyak turun tajam dari level tertingginya pada musim semi dan mendorong harga rata-rata bensin di Amerika Serikat turun ke bawah US$ 4 per galon.

Dikutip dari New York Post yang melansir Bloomberg, Sabtu (20/6/2026), sebanyak 11 kapal tanker yang mengangkut total 20 juta barel minyak meninggalkan Pelabuhan Chabahar di Iran pekan ini, setelah berbulan-bulan terhambat akibat pembatasan ekspor.Pelepasan pasokan tersebut terjadi bersamaan dengan pelaksanaan nota kesepahaman antara AS dan Iran yang bertujuan meredakan konflik serta membuka kembali jalur pelayaran.Kepala Ekonom LPL Financial, Jeffrey Roach menilai pasar selama ini terlalu fokus pada risiko pasokan dari Selat Hormuz. Padahal penurunan permintaan minyak China bisa menjadi faktor yang lebih menentukan arah harga minyak dunia.Selain itu, pelepasan cadangan minyak strategis, penurunan aktivitas kilang, serta tambahan produksi dari Brasil, Guyana, dan Amerika Serikat juga membantu meredam dampak gangguan pasokan dari Timur Tengah."Pertanyaan utamanya adalah berapa lama Beijing dapat terus mengimpor minyak mentah dalam jumlah yang begitu rendah," tutur Roach.Roach memang berpendapat faktor utama yang menahan kenaikan harga minyak adalah melemahnya permintaan dari China. Menurut Roach, impor minyak mentah China turun menjadi 6,7 juta barel per hari pada bulan lalu atau hampir 40% di bawah rata-rata sepanjang 2025.Penurunan tersebut setara dengan berkurangnya permintaan sekitar 4 juta barel per hari, jumlah yang menurutnya setara dengan total konsumsi minyak Jerman dan Prancis jika digabungkan. Anjloknya permintaan dari China membantu mengimbangi gangguan pasokan yang terjadi akibat konflik di Timur Tengah.