JAKARTA, KOMPAS.com - Kearifan lokal masyarakat Betawi dalam mengelola limbah rumah tangga menginspirasi warga RW 03 Kelurahan Setu, Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur, mengembangkan sistem pengelolaan sampah organik berbasis komunitas.
Alih-alih menggunakan lubang biopori berukuran kecil, warga memanfaatkan drum bekas yang ditanam di dalam tanah untuk mengolah sampah organik rumah tangga.Ketua RW 03 Kelurahan Setu, Maah, mengatakan inovasi tersebut berangkat dari kebiasaan masyarakat Betawi pada masa lalu yang mengelola limbah organik dengan menggali lubang berukuran sekitar 2 x 2 meter di pekarangan rumah.
Saat itu, sebagian besar limbah rumah tangga berasal dari sisa makanan, rumput, maupun kotoran ternak yang kemudian dikubur dan dibiarkan terurai hingga menyuburkan tanah.
Baca juga: ITDC Gandeng Masyarakat Benoa Kelola Sampah Organik Jadi Eco Enzyme
"Babe saya dulu memelihara lima ekor kerbau. Di samping kandangnya digali lubang ukuran 2x2 meter untuk menampung kotoran ternak, sisa makanan, dan rumput. Setelah kering diangkat jadi pupuk atau dibiarkan tertimbun, makanya kebun orang Betawi dulu subur-subur," ujar Maah kepada Kompas.com saat ditemui di Jakarta Eco Future Fest 2026, Balai Kota Jakarta, Jumat (3/7/2026).









