JAKARTA, KOMPAS.com - Tumpukan botol plastik, kardus bekas, hingga ember pecah yang dulu berakhir di tempat sampah kini memiliki nilai baru bagi Nita Putrini.
Guru taman kanak-kanak (TK) yang tinggal di RT 08 RW 04 Kelurahan Malaka Jaya, Duren Sawit, Jakarta Timur, itu mulai rutin memilah sampah rumah tangga dalam dua tahun terakhir.Perubahan kebiasaan tersebut berawal dari program pengelolaan sampah yang digagas Ketua RT setempat, Taufiq Supriadi.
Baca juga: Dana CSR Tak Bisa Jadi Andalan Pengelolaan Sampah Daerah
Melalui edukasi dan pendampingan bank sampah, warga diperkenalkan pada konsep ekonomi sirkular yang mengubah sampah menjadi sumber manfaat ekonomi sekaligus lingkungan.
"Dulu saya pikir percuma memilah sampah karena akhirnya dicampur lagi. Setelah ada edukasi bank sampah, ternyata sampah punya nilai ekonomi," kata Nita kepada Kompas.com, Sabtu (13/6/2026).







