DI TENGAH meningkatnya ketegangan internal, negara-negara anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) direncanakan akan berkumpul di Ankara, Turki, 7-8 Juli, dalam rangka pertemuan tingkat tinggi di antara para kepala negara.
Pembahasan mengenai soliditas internal organisasi akan menjadi tema sentral merujuk banyaknya gesekan internal di antara para anggota, terutama Amerika Serikat (AS) yang—melalui Donald Trump—kerap melontarkan ancaman untuk mengurangi dukungan anggaran, bahkan mengancam untuk keluar dari organisasi karena minimnya dukungan terhadap AS dalam perang AS-Iran.Selain itu, bagaimana cara organisasi mempersepsikan ancaman diyakini akan menjadi diskursus yang mencuat, terutama sebagai bentuk penyikapan atas dinamika perang Rusia dan Ukraina yang semakin tereskalasi, dan masifnya ancaman keamanan non-tradisional yang selama ini luput dari konsiderasi para anggota.
Pentingnya pertemuan di Ankara ini bagi negara-negara anggota tercermin dari pernyataan Sekjen NATO, Mark Rutte, yang menyatakan bahwa KTT Ankara bukanlah sekadar pertemuan formal, melainkan momentum strategis bagi negara-negara anggota untuk meninjau kembali kesiapan militer masing-masing dalam merespons ancaman keamanan modern.














