Jakarta -

Sebuah kapal diserang di Selat Hormuz pada Kamis (25/6) waktu setempat. Insiden ini memaksa Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menangguhkan upaya evakuasi kapal-kapal yang sempat terjebak di jalur perairan strategis tersebut selama perang Timur Tengah berkecamuk.Dikutip dari Al Jazeera, Jumat (26/6/2026), laporan serangan ini pertama kali diterima oleh United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO). Kapal tersebut melaporkan terkena proyektil di sisi kanan lambungnya sekitar 14 km (7,5 mil laut) di sebelah tenggara pelabuhan Dahit, Oman, tambah badan angkatan laut Inggris.Sumber keamanan maritim lainnya mengatakan bahwa kapal tersebut kemungkinan besar menjadi sasaran drone, meski belum jelas siapa yang melakukan serangan tersebut.

Dalam laporan keamanan maritim itu, kapal yang terkena serangan tersebut diidentifikasikan sebagai kapal kontainer berbendera Singapura, Ever Lovely. Dalam hal ini kapal diperkirakan berlayar sendiri karena tidak beroperasi di bawah kerangka evakuasi IMO.Masalahnya laporan terkait serangan kapal tersebut muncul hanya beberapa jam setelah Iran memerintahkan kapal-kapal untuk berhenti menggunakan rute melalui selat tersebut tanpa izin dari Teheran."Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) memerintahkan dua kapal berbendera Panama untuk mengubah haluan pada Kamis pagi," jelas Al Jazeera menurut keterangan perusahaan keamanan maritim Inggris, Ambrey.Setelah insiden tersebut, Otoritas Selat Teluk Persia (PGSA) yang dibentuk oleh Iran untuk mengelola Selat Hormuz, menyebut jika transit di luar rute yang telah ditentukan tidak akan tercakup dalam jaminan jalur aman. Mengindikasikan bahwa kapal-kapal itu bisa terkena serangan Teheran sewaktu-waktu."Konsekuensi yang timbul akibat melewati jalur yang tidak sah menjadi tanggung jawab pemilik, operator, dan komandan kapal," tambah PGSA pada X.