Washington DC -

Pemerintah Iran dilaporkan melibatkan tim psikolog senior untuk mempelajari pikiran Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump selama proses negosiasi berlangsung antara kedua negara yang berkonflik itu.Para psikolog senior itu bahkan direkrut sebagai bagian dari delegasi negosiator Iran, yang melakukan perundingan tidak langsung dengan AS, yang dimediasi oleh Pakistan, beberapa bulan terakhir.Informasi tersebut, seperti dilansir berbagai media, seperti The Cradle dan DropSiteNews, Senin (15/6/2026), diungkapkan oleh seorang jurnalis investigasi AS, Jeremy Scahill, yang mendirikan media independen, DropSiteNews.

Scahill mengklaim bahwa dirinya mendapatkan informasi dari sumber-sumber Iran soal cara berurusan dengan Trump. Dia mengatakan bahwa tim psikolog senior Iran dilibatkan untuk menilai dan membentuk komunikasi dengan Presiden AS tersebut, yang diyakini oleh Teheran, mengalami gangguan mental. Hal ini diungkapkan Scahill ke publik beberapa hari sebelum mediator Pakistan mengumumkan, pada Senin (15/6) pagi, bahwa AS dan Iran telah mencapai kesepakatan damai.Saat berbicara dalam podcast Breaking Points pada 13 Juni, Scahill mengatakan bahwa perubahan pendekatan Iran itu diimplementasikan beberapa pekan lalu, saat delegasi Teheran meyakini bahwa Trump "benar-benar sakit jiwa" dan "beroperasi dalam kondisi mental yang terganggu".Dituturkan para negosiator Iran kepada Scahill bahwa keputusan itu tidak dibuat secara "sembarangan", tetapi merespons apa yang dianggap oleh Teheran sebagai pemimpin yang "tidak mampu secara mental".