TEHERAN, KOMPAS.com - Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali bertempur, Kedua belah pihak saling jual-beli serangan udara selama dua hari berturut-turut pada Kamis (11/6/2026).

Baku tembak ini kian mengancam gencatan senjata rapuh yang sempat disepakati pada April lalu, sekaligus memupuskan harapan publik akan berakhirnya perang yang telah pecah sejak akhir Februari tersebut.Merespons situasi ini, Presiden AS Donald Trump menegaskan tidak akan ragu untuk melancarkan serangan lanjutan jika Teheran tidak segera menyepakati perjanjian damai.

Baca juga: Fans Iran Inginkan Laga Lawan AS di Piala Dunia, Berharap Bawa Perdamaian

Ancaman Trump ini langsung memicu gejolak ekonomi, di mana harga minyak dunia melonjak hingga hampir 3 dollar AS dan terus merangkak naik dalam perdagangan di Asia pada Kamis.

Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menyatakan, langkah militer ini diambil demi menekan Iran agar mau naik ke meja perundingan.