Washington DC - U.S. Central Command (CENTCOM) atau Komando Pusat Angkatan Bersenjata Amerika Serikat (AS) mengumumkan telah melancarkan serangan terhadap Iran. Informasi awal dari serangan ini berasal dari pernyataan Menteri Pertahanan (Menhan) AS Pete Hegseth."Komando Pusat akan sibuk malam ini, karena Presiden Trump mengatakan kami akan menyerang Iran dengan keras dan kami akan melakukannya," ujar Hegseth kepada wartawan pada Rabu (10/06).Dia menambahkan bahwa militer AS membidik "fasilitas-fasilitas penting" di Iran sebagai akibat dari kegagalan Iran mencapai kesepakatan dengan AS untuk mengakhiri perang.

CENTCOM serang 'sejumlah target'Lewat sebuah unggahan di akun X, sebelumnya Twitter, CENTCOM menyatakan bahwa pihaknya telah memulai serangan terhadap Iran.CENTCOM menyatakan serangan dimulai pada Rabu (10/06) pukul 17.15 ET atau Kamis (11/06) pukul 5.15 pagi WIB. Mereka menyatakan serangan dimulai "terhadap sejumlah sasaran di Iran atas perintah Panglima Tertinggi." Mereka menyatakan bahwa serangan tersebut "merupakan respons terhadap agresi Iran yang tidak beralasan dan terus berlanjut."Kemudian, tak lama setelah pengumuman pihak AS akan menyerang Iran, media milik pemerintah Teheran melaporkan serangkaian ledakan baru di bagian selatan Iran, yang berdekatan dengan Selat Hormuz.Lembaga Penyiaran Republik Islam Iran melaporkan terjadinya ledakan di Bandar Abbas, sebuah kota pelabuhan di Provinsi Hormozgan, Iran Selatan.Selain itu, ledakan juga dilaporkan terjadi di Kota Mina dan Sirik, serta di Pulau Qeshm.Merespons serangan tersebut, pemimpin militer tertinggi Iran menyatakan bahwa Selat Hormuz ditutup sepenuhnya. Kemudian, Teheran menyatakan bahwa setiap kapal yang berusaha melintasi jalur yang sangat penting secara ekonomi tersebut akan diserang.Hanya saja, CENTCOM membantah klaim penutupan Selat Hormuz lewat sebuah unggahannya. Mereka mengatakan bahwa "kapal komersial tetap melintasi Selat Hormuz malam ini."IRGC targetkan fasilitas militer AS di Bahrain dan KuwaitSebagai respons atas serangan terbaru AS, Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) menyatakan telah menyerang fasilitas militer AS di Bahrain dan Kuwait sebagai balasan atas serangan terbaru Washington terhadap wilayah kekuasaan Teheran."Dalam dua gelombang operasi, delapan belas sasaran penting milik Angkatan Darat AS," (telah dihantam) di pangkalan udara Ali Al Salem dan Ahmed Al Jaber di Kuwait, kata IRGC.Militer Iran juga menyatakan telah menyerang "Pangkalan Udara Sheikh Isa" di Bahrain.Hanya saja, masih belum diketahui secara rinci kerusakan yang ditimbulkan oleh serangan Iran terbaru ini.Respons berbagai pihakSerangan Iran memicu respons keamanan di sejumlah negara Teluk. Kementerian Dalam Negeri Bahrain sempat menyatakan bahwa sirene sempat berbunyi di negara Teluk tersebut beberapa kali."Warga negara dan penduduk dihimbau untuk tetap tenang dan segera menuju ke tempat aman terdekat," tulis Kementerian tersebut di X.Sementara itu, Kuwait dilaporkan menutup sementara bandaranya akibat serangan yang dilakukan Iran. Sedikitnya lima penerbangan telah dialihkan. Semula, militer Kuwait sempat menyatakan bahwa sistem pertahanan udaranya sedang menyerang sasaran udara milik musuh. Iran sebelumnya dilaporkan menargetkan fasilitas militer AS di Kuwait.Kemudian, Sekretaris Jendral PBB Antonio Guterres juga ikut merespons. Dia menyerukan kembali agar ketegangan mereda di tengah serangan yang terus dilancarkan oleh AS dan Iran. Dia memperingatkan bahwa "Asia Barat semakin terjerumus ke dalam krisis dan dampaknya bisa lebih luas dari kawasan tersebut."Trump sebut Iran minta hentikan serangan, Teheran membantahDalam sebuah wawancara dengan kantor berita Fox News, Trump yang didampingi Wakil Presiden JD Vance dan pejabat lainnya, mengeklaim bahwa dia telah berbicara dengan pejabat di Teheran, yang memintanya untuk menghentikan serangan udara.Namun, media milik pemerintah Iran kemudian membantah pernyataan Trump yang mengaku dirinya telah berbicara dengan pejabat tinggi Teheran.Serangan AS terhadap Iran, ungkap Trump, akan segera dihentikan, tetapi dia mengancam akan melancarkan serangan lebih lanjut jika Iran tidak menandatangani perjanjian damai dan mengatakan "kami akan membombardir mereka habis-habisan."Trump mengeklaim bahwa gencatan senjata yang dimulai pada 8 April 2026 adalah "gencatan senjata yang paling sering dilanggar dalam sejarah dunia."Namun, lewat unggahan di akun X CENTCOM, Washington menyatakan bahwa serangkaian serangan "pertahanan diri" terbarunya terhadap Iran telah selesai."Pasukan CENTCOM melancarkan serangan terhadap fasilitas pengawasan militer Iran, sistem komunikasi, dan pos-pos pertahanan udara di seluruh wilayah Iran. Aset-aset Korps Marinir, Angkatan Udara, dan Angkatan Laut AS melepaskan amunisi presisi ke sasaran-sasaran Iran yang mengancam pasukan AS dan kapal-kapal komersial internasional yang melintasi perairan regional," kata CENTCOM dalam sebuah unggahan di X."Serangan ini merupakan respons terhadap agresi Iran yang tidak beralasan dan terus-menerus," tambah pernyataan tersebut. "Pasukan AS tetap waspada, mematikan, dan siap."Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa InggrisDiadaptasi oleh Muhammad HanafiEditor: Tezar Aditya RahmanSimak juga Video 'Presiden Iran: AS-Israel Tak Mampu Paksa Iran Menyerah lewat Ancaman':