Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kian melemah hingga menembus Rp 18.000. Kendati mata uang Garuda anjlok, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memastikan industri perbankan tanah air tetap kokoh dan jauh dari isu miring penarikan uang massal alias bank rush.Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae mengatakan situasi di dalam negeri masih sangat terkendali, sehingga tidak terdapat potensi aksi penarikan uang massal."Kami memandang saat ini tidak terdapat potensi bank rush karena situasi politik keamanan dan ekonomi Indonesia masih kondusif," ujar Dian dalam konferensi pers hasil RDKB Mei 2025, Jumat (5/6/2026).
Dia menjelaskan bank rush biasanya dipicu oleh rontoknya kepercayaan masyarakat terhadap sistem perbankan. Oleh karena itu, OJK meminta perbankan untuk menjaga kepercayaan masyarakat melalui beberapa hal. Di antaranya, menjaga kinerja bank tetap baik, implementasi prinsip kehati-hatian dalam pengelolaan bank, hingga melaksanakan manajemen risiko secara aktif dalam setiap lini bisnisnya.OJK tidak menampik bahwa secara teoritis, amblesnya nilai tukar Rupiah bakal membawa efek domino bagi perekonomian. Salah satunya adalah lonjakan harga barang impor. Kondisi ini bisa memukul daya beli masyarakat hingga membuat beban fiskal bengkak karena anggaran susbidi, seperti BBM, listrik, pupuk, hingga bahan baku industri menjadi bengkak.Namun di sisi lain, Dian menyebut melemahnya Rupiah juga membawa berkah tersembunyi bagi sektor tertentu, termasuk ekspor Indonesia. Menurutnya, produk ekspor Indonesia menjadi lebih murah dan lebih bersaing di pasar global. Tak hanya itu, efek pelemahan kurs ini membuat Indonesia menjadi semakin menarik sebagai salah satu tujuan bagi wisatawan mancanegara."Oleh karena itu kami senantiasa melakukan monitoring dan evaluasi secara berkala terkait pergerakan nilai tukar dan dampak yang terhadap perbankan," tambah Dian.Dian juga membeberkan perbankan Indonesia masih sangat aman dari risiko mata uang asing. Per April 2026, rasio Posisi Devisa Neto (PDN) perbankan nasional tercatat berada di level 1,63% dengan posisi long. Angka ini jauh di bawah ambang batas atau threshold maksimal yang ditetapkan otoritas, yaitu sebesar 20% dari modal bank."Ini menunjukkan bahwa eksposur langsung perbankan terhadap risiko nilai tukar itu relatif terjaga dan terkendali. Dengan demikian dampak immidiate dari pelemahan Rupiah terhadap stabilitas perbankan itu relatif masih terbatas," jelas Dian.Efek Panjang Pelemahan Rupiah Meski begitu, Dian menilai pelemahan rupiah yang berlanjut akan berdampak pada debitur yang memiliki eksposur rentan terhadap pergerakan valuta asing. Imbasnya, dapat menekan kemampuan bayar debitur dan meningkatkan risiko kredit. Dalam kondisi tersebut, OJK terus meminta perbankan untuk memastikan kecukupan pembentukan cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN) serta ketahanan permodalan yang kuat."Sementara itu untuk memastikan bahwa perbankan di Indonesia telah mengukur dan mengendalikan berbagai risiko yang ada, juga OJK secara berkelanjutan itu tetap melakukan pemantauan terhadap perkembangan risiko dan meminta perbankan untuk senantiasa melaksanakan pengelaran risiko secara menyeluruh," tutur Dian.Lebih lanjut, di tengah kondisi global yang masih penuh ketidakpastian, OJK meningkatkan fokus kepada pengawasan individual bank. Untuk mengukur ketahanan perbankan dalam menghadapi berbagai potensi shock macro economic, OJK juga secara rutin itu terus melakukan stress test."Berdasarkan hasil stress test tersebut sektor perbankan dinilai masih mampu untuk menghadapi potensi tegangan yang timbul dari pelemahan Rupiah," jelas Dian.Selain yang dilakukan OJK, perbankan juga secara rutin melakukan stress test secara mandiri, baik menggunakan skenario dan asumsi sendiri maupun yang disiapkan oleh otoritas. Upaya ini untuk memastikan bahwa kemampuan bank-bank memitigasi risiko yang dihadapi termasuk yang berasal juga dari pelemahan nilai tukar ini."Nah sebagai langkah preventif terhadap sentimen di masyarakat OJK senantiasa memantau dinamika pasar dan tren opini publik secara berkesinambungan. OJK juga terus memperkuat koordinasi kebijakan strategi komunikasi publik bersama Bank Indonesia dan dengan LPS dan Kementerian Keuangan dalam Kerangka Komite Stabilitas Sistem Keuangan untuk memastikan stabilitas makro ekonomi dan sistem keuangan itu," jelas Dian.Seperti diketahui, nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) telah menyentuh level Rp 18.000 pada pembukaan perdagangan pagi ini. Dikutip dari data Bloomberg, Jumat (5/6/2026), nilai tukar dolar AS pukul 09.01 WIB berada pada level 18.049 atau naik 82 poin (0,46%).












