KOMPAS.com - Nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) terus mengalami pelemahan dalam beberapa waktu terakhir.

Pada Senin (18/5/2026), mata uang Garuda bahkan menyentuh level Rp 17.669 per dollar AS.

Pelemahan rupiah tersebut dipengaruhi oleh kombinasi sentimen eksternal dan domestik yang menekan aset-aset berisiko di pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Situasi ini mengingatkan publik pada krisis moneter yang pernah terjadi pada akhir 1990-an, ketika nilai tukar rupiah sempat anjlok hingga menembus level Rp 17.000 per dollar AS pada masa reformasi setelah runtuhnya Orde Baru.

Dalam periode krisis tersebut, nilai tukar rupiah perlahan berhasil pulih di tangan Presiden Bacharuddin Jusuf (BJ) Habibie.

Saat itu, rupiah bahkan sempat menguat hingga berada di kisaran Rp 6.500 per dollar AS.