NILAI tukar rupiah kembali menjadi sumber kegelisahan publik. Ketika dolar Amerika Serikat menembus Rp 17.600 (15/5/2026), keresahan tidak lagi hanya terasa di ruang dealing room perbankan atau pasar modal.
Dampaknya mulai menjalar ke dapur rumah tangga, warung kecil, pengrajin tahu-tempe, hingga pelaku UMKM yang bergantung pada bahan baku impor. Pertanyaannya kini bukan sekadar mengapa rupiah melemah. Pertanyaan yang jauh lebih mengusik adalah: seberapa buruk rupiah benar-benar terpuruk?
Baca juga: Ketika Prabowo Menantang Logika Pasar
Apakah ini sekadar gejolak musiman akibat tekanan global, atau tanda bahwa fondasi ekonomi nasional sedang menghadapi tekanan yang lebih dalam?
Di tengah situasi tersebut, masyarakat sebenarnya sedang membaca sesuatu yang lebih besar daripada sekadar angka kurs. Publik membaca rasa aman.












