JAKARTA, KOMPAS.com - Nilai tukar rupiah di pasar spot semakin tekanan pada pembukaan perdagangan Rabu (3/6/2026). Rupiah terdepresiasi 80,50 poin atau 0,45 persen ke level Rp 17.919 per dollar Amerika Serikat (AS).

Analis Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan pelemahan rupiah dipengaruhi faktor eksternal dan domestik. Dari eksternal, penguatan harga minyak dunia serta meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah menjadi sentimen utama yang menekan pergerakan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Harga minyak dunia menguat sekitar 1 persen pada akhir perdagangan Selasa (2/6/2026) waktu setempat atau Rabu pagi waktu Indonesia, seiring pasar menantikan perkembangan negosiasi antara Iran dan AS terkait upaya penghentian konflik.Baca juga: IHSG Anjlok 3,17 Persen Pagi Ini, Rupiah Terperosok ke Rp 17.900 per Dollar AS

Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent naik 1,02 dollar AS atau 1,1 persen menjadi 96 dollar AS per barrel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 1,60 dollar AS atau 1,7 persen menjadi 93,76 dollar AS per barrel.

Level penutupan tersebut menjadi yang tertinggi bagi kedua acuan minyak sejak 26 Mei 2026.