DAMPAK berkepanjangan dari krisis energi global akibat ketegangan menahun di Timur Tengah kini telah mencapai titik jenuh yang melelahkan bagi pasar keuangan.

Kondisi tersebut memaksa bank sentral Amerika Serikat mempertahankan suku bunga tinggi dalam jangka waktu lama, yang secara konsisten bertindak bak magnet raksasa menyedot modal keluar dari negara-negara berkembang. Likuiditas global yang terus mengering ini akhirnya merembet langsung ke Jakarta, memaksa nilai tukar rupiah tertekan hebat mendekati level psikologis Rp18.000 per dolar.

Gejolak moneter struktural tersebut nyatanya menimpa seluruh dunia, mulai dari tumbangnya Yen Jepang hingga tiarapnya Euro.

Di tengah kepungan badai yang disebut Super Dollar ini, bayang-bayang kelam mulai menghantui benak publik mengenai skenario terburuk yang bisa terjadi di masa depan: bagaimana jika dolar AS terus melompat ekstrem hingga menembus angka Rp 25.000?

Situasi psikologis pasar yang makin goyah ini langsung memicu kecemasan mendalam di tingkat akar rumput, di mana daya beli masyarakat kini berada dalam kondisi paling rentan akibat himpitan harga-harga kebutuhan pokok yang mulai merangkak naik secara tidak wajar.