Jakarta - Investor pasar modal Indonesia diminta untuk tidak panik dalam merespons runtuhnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam beberapa waktu terakhir. Investor diminta untuk kembali mengevaluasi fundamental emiten sebelum memutuskan investasinya.Sebagai informasi, IHSG tercatat melemah sejak perdagangan Rabu (4/6) kemarin yang terkoreksi 4,11% ke level 5.941,06. Pelemahan terus berlanjut pada perdagangan hari ini meski IHSG berhasil memangkas koreksinya menjadi 1,59% ke level 5.846,84."Fokusnya tetap pada evaluasi fundamental emiten. Jika fundamental masih kuat, koreksi saat ini lebih tepat disikapi dengan disiplin dan selektif, bukan menjual secara emosional," ungkap Pengamat Pasar Modal Indonesia, Reydi Octa, kepada detikcom, Kamis (4/6/2026).

Reydi menilai, investor bisa melakukan rebalancing portofolio terhadap saham-saham yang tidak memiliki prospek yang baik. Kemudian investor bisa meningkatkan porsi pada emiten ke saham-saham dengan valuasi yang baik.Ia menjelaskan, koreksi IHSG saat ini dipengaruhi oleh ekonomi makro, pelemahan nilai tukar rupiah, dan arus keluar dana asing. Sepanjang sentimen tersebut berlanjut, tekanan IHSG disebut belum akan mereda."Namun bagi investor jangka panjang, kondisi seperti ini justru dapat menjadi momentum akumulasi bertahap pada saham-saham berfundamental kuat," jelasnya.Sementara itu, instrumen reksa dana dianggap dapat menjadi instrumen investasi alternatif bagi investor pasar modal. Perencana keuangan Advisors Alliance Group, Andy Nugroho, menilai reksa dana menjadi salah satu instrumen yang berisiko rendah.Namun, ia menyarankan investor untuk memiliki reksa dana berbasis pendapatan tetap. Pasalnya untuk saat ini, reksa dana berbasis saham masih berpeluang mengalami koreksi seiring dengan pelemahan IHSG."Reksa dana sendiri, ya kalau dalam kondisi seperti sekarang, yang paling masih bisa memberikan cuan gitu kan, yaitu reksadana yang basisnya adalah pendapatan tetap ataupun di pasar saham," jelasnya.Selain itu, Surat Berharga Negara (SBN) dan sukuk negara ritel juga disebut memiliki risiko yang rendah dan lebih stabil. Pasalnya kedua instrumen tersebut diterbitkan langsung oleh pemerintah."Dari sisi imbal hasil mungkin tidak setinggi, kalau di reksa dana yang pasar uang maupun pendapatan tetap, namun dia memiliki keunggulan itu lebih stabil, lebih aman juga. Paling tidak kita masih bisa tetap mendapatkan imbal hasilnya tiap bulannya dan penjaminnya kan pemerintah, jadi kan relatif lebih aman," pungkasnya.