Bogor - Aroma rempah kaldu santan yang sedang direbus langsung tercium ketika masuk ke gerai Soto Kuning Pak Yusup di kawasan Surya Kencana, Bogor, Jawa Barat. Membuat para pengunjung rela antre demi seporsi soto kuah kuning legendaris.Pagi itu pukul 09.00 WIB, Iswahyudi, adik dari sang pemilik utama Pak Yusup, tampak sibuk melayani pelanggan yang datang silih bergantian. Ia dipercaya oleh keluarga menjadi penanggung jawab operasional usaha.Baginya, hal ini lebih dari sekadar pekerjaan. Sebab di balik semangkuk soto yang disajikan, ada cerita tentang ketekunan keluarga yang merintis usaha dari bawah hingga naik kelas dan bertahan lebih dari tiga dekade.

"Saya di sini sebagai adik dari owner (Pak Yusup). Kita dipercaya untuk mengelola usaha ini. Jadi apapun yang terjadi di lapangan, kita yang menjawab," ujarnya di sela-sela aktivitas melayani pelanggan, belum lama ini.Didirikan Sejak 1993Yudi bercerita awalnya Soto Kuning Pak Yusup didirikan sekitar tahun 1993 di Gang Aut, Surya Kencana. Sejarahnya tak lepas dari kondisi lingkungan tempat tinggalnya yang mayoritas warganya adalah pedagang."Dulu lingkungan tempat tinggal kita kebanyakan warganya jualan soto, sampai-sampai disebut Blok Soto. Jadi satu kampung isinya penjual soto semua," ungkapnya.Kondisi itu disebabkan oleh kuatnya akulturasi budaya Tionghoa di kawasan tersebut. Semangat berdagang mereka menginspirasi warga lokal untuk ikut membuka usaha kuliner.Iswahyudi baju biru (kiri) saat melayani pelanggan Foto: Alfi Kholisdinuka/detikcomMenariknya, kesamaan menu dan lokasi berjualan tak pernah memicu konflik di antara para pedagang. Kerukunan antarwarga sudah terjalin sangat erat sejak lama."Di sini sudah biasa membaur, dari masyarakat lokal sampai keturunan Tionghoa, semuanya hidup rukun dan sama-sama merintis usaha kuliner (termasuk Pak Yusup)," jelasnya.Pada awal merintis, Pak Yusup masih menjajakan dagangannya dengan cara dipikul di pinggir jalan seperti pedagang kaki lima (PKL) pada umumnya.Lambat laun, usahanya meningkat. Pak Yusup mulai jualan pakai gerobak hingga sewa-sewa kios yang lebih strategis. Hal itu dilakukannya supaya bisa lebih banyak menarik konsumen.Hingga saat ini, Soto Kuning Pak Yusup menjadi salah satu ikon kuliner yang khas di Surya Kencana, Bogor. Perkembangannya yang masif membuat para keluarga dekat ikut terlibat dalam membesarkan usaha soto ini.Hijrah dari Dunia RitelSebelum mengelola penuh usaha soto keluarga ini, Yudi berkecimpung di dunia ritel dan distribusi. Ia tercatat pernah bekerja di Ramayana, sebelum akhirnya lama meniti karier di perusahaan principal produk sebagai supplier.Kesibukan sebagai pekerja itu tidak lantas membuatnya lepas tangan dari usaha keluarga. Di sela-sela rutinitasnya yang padat, Yudi kerap memanfaatkan waktu libur akhir pekan untuk ikut membantu operasional Soto Kuning Pak Yusup."Waktu dulu masih kerja, saya jalani sambil ikut bantu-bantu juga. Cuma waktu itu saya ambil pas weekend saja, hari Sabtu dan Minggu pas kebetulan libur kerja," kenangnya.Aktivitas tersebut ia lakoni selama beberapa tahun. Namun seiring berjalannya waktu, ia akhirnya memilih melepaskan karier lamanya untuk fokus membantu usaha Pak Yusup di lapangan.Berbekal pengalamannya itu, ia kini dipercaya untuk mengelola operasional dapur yang melibatkan lima vendor dari keluarga dekat Pak Yusup. Masing-masing vendor memiliki tugas khusus menyajikan menu pelengkap."Di sini totalnya ada lima vendor dari keluarga semua. Khusus yang rebusan daging itu pure dipegang sama kakak saya selaku owner. Sedangkan untuk bagian goreng-gorengan itu vendornya beda-beda lagi, terus nasi juga beda lagi," jelasnya.Pelanggan tampak mengantre di Soto Kuning Pak Yusup Foto: Alfi Kholisdinuka/detikcomDihantam Pandemi, Dibantu KUR BRIMeski memiliki sistem kerja sama keluarga yang solid, roda bisnis Soto Kuning Pak Yusup tak selamanya berjalan mulus. Sepanjang perjalanannya, hantaman pandemi COVID-19 beberapa tahun lalu dirasa Yudi menjadi salah satu tantangan bisnis paling berat.Kebijakan pembatasan aktivitas masyarakat yang diberlakukan kala itu berdampak langsung pada operasional usaha. Kawasan Surya Kencana yang biasanya ramai mendadak sepi, daya beli menurun, omzet harian ikut anjlok."Dukanya ya itu aja, pas lagi ada pandemi, kalau lagi daya beli kurang, omzet anjlok. Dampaknya kerasa sekali waktu itu," kenang Yudi.Kala itu, Yudi harus memutar otak agar dapur tetap mengepul. Beruntung, di tengah situasi ekonomi yang tak menentu, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) menawarkan solusi permodalan melalui program Kredit Usaha Rakyat (KUR) pada 2021-2022.Tanpa berpikir panjang, pihaknya memanfaatkan momentum tersebut untuk menutup biaya operasional dan memperpanjang sewa kios mereka yang saat itu masih berada di seberang jalan."Waktu masih di seberang, ada pihak BRI yang menawarkan Kredit Usaha Rakyat (KUR). Kebetulan saat itu ekonomi lagi sulit-sulitnya pas pandemi. Ya sudah, kita ambil," cerita Yudi.Yudi kemudian mengambil pinjaman modal usaha itu dalam dua tahap sebesar Rp 50 juta dan Rp 75 juta dengan tenor singkat dua tahun. Prosesnya pun terbilang cepat dan mudah."Cuma beberapa hari itu langsung cair," katanya.Setelahnya, Soto Kuning Pak Yusup berhasil bertahan melewati masa-masa kritis pandemi. Saat situasi ekonomi kembali pulih sepenuhnya, usaha soto ini pun semakin berkembang."Jadi kita sangat bersyukur waktu itu ada BRI. Sampai sekarang udah beres, dan nggak ada masalah, sangat-sangat terbantu," ungkapnya.Ruko Soto Kuning Pak Yusup di Gg Aut Surya Kencana Bogor Foto: Alfi Kholisdinuka/detikcomUsaha Berkembang, Pindah ke RukoKeputusan mengambil KUR BRI kala itu diakui Yudi sebagai keputusan yang tepat. Sebab, dalam beberapa tahun setelahnya, pihaknya sudah bisa mengumpulkan modal tambahan untuk menempati ruko sendiri.Tepat pada Desember 2025, usaha soto legendaris ini resmi meninggalkan status kios sewaan dan pindah ke ruko empat lantai milik sendiri yang terletak di seberang lokasi lama di Gang Aut, Surya Kencana."Ini kita termasuk baru pindah ke sini, pas Desember 2025 sampai sekarang. Alhamdulillah, ruko ini murni hasil dari perputaran usaha soto ini," ujar Yudi dengan penuh syukur.Tempat baru ini membawa dampak signifikan terhadap pertumbuhan omzet Soto Kuning Pak Yusup. Meski Yudi enggan merinci angka pastinya, ia mengakui bahwa pendapatannya jauh lebih besar dibanding tempat sebelumnya.Penjualan bisa melonjak hingga dua kali lipat lebih banyak. Hal ini didorong oleh kapasitas tempat yang lebih luas, variasi menu yang semakin beragam, serta adanya penyesuaian harga untuk tiap menu soto.Tak heran, geliat bisnis yang semakin besar ini membuat pihaknya turut membuka lapangan pekerjaaan. Saat ini, Soto Kuning Pak Yusup memiliki 15 pekerja dari keluarga dan kerabat dekat yang mengurusi bagian dapur hingga pelayanan meja."Pekerja ada yang bagian dapur dan pelayanan, tugasnya beda-beda. Untuk shift ini saja ada 7 orang yang bertugas, besok berganti lagi dengan tim yang lain," jelas Yudi.Kuliahkan Anak hingga SarjanaBagi Yudi, pencapaian tertinggi usaha Soto Kuning Pak Yusup ini tak hanya diukur dari ruko yang kini dimiliki keluarganya. Tapi, keberhasilan membukakan jalan pendidikan bagi anak-anaknya.Yudi kini sukses mengantarkan anaknya ke perguruan tinggi dan menyandang gelar sarjana. Bahkan, dua dari tiga anaknya sudah bekerja di Badan Usaha Milik Negara (BUMN)."Anak saya ada tiga. Alhamdulillah, yang pertama udah sarjana sekarang sudah kerja di BRI, yang kedua di BNI. Dua-duanya kerja jadi bankir," ucap Yudi dengan bangga.Sementara itu, anak bungsunya kini sedang menempuh kuliah semester enam di Institut Pertanian Bogor (IPB). Yudi berharap anaknya bisa melanjutkan keberhasilan kedua kakaknya.Di sisi lain, ketika ditanya mengenai rencana membuka cabang baru Soto, Yudi memilih untuk bersikap realistis namun tetap optimis. Bagi Yudi, menjaga kualitas rasa jauh lebih penting daripada sekadar mengejar kuantitas cabang."Harapan saya ke depan sederhana saja. Pengin usaha keluarga ini selalu sukses, mengalir apa adanya, dan pelanggan bisa makin banyak lagi," pungkas Yudi.BRI Dorong UMKM Naik KelasPada kesempatan terpisah, Direktur Utama BRI, Hery Gunardi mengatakan pihaknya terus berupaya menghadirkan pembiayaan yang mudah diakses, tepat sasaran serta berkelanjutan. Menurutnya, KUR jadi instrumen strategis BRI dalam mendukung sektor usaha mikro dan sektor produktif."Melalui KUR, BRI berupaya menghadirkan pembiayaan yang mudah diakses, tepat sasaran, serta berkelanjutan. BRI tidak hanya memberikan akses modal, tetapi juga mendorong peningkatan kapasitas usaha agar pelaku UMKM, termasuk petani, dapat tumbuh dan berkembang secara berkelanjutan," ujar Hery dalam keterangan tertulis.BRI juga terus memperkuat kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan guna memastikan penyaluran KUR memberikan dampak ekonomi yang nyata.Secara kinerja, sepanjang 2025 BRI menyalurkan KUR sebesar Rp 178,08 triliun kepada sekitar 3,8 juta debitur di seluruh Indonesia. Lebih dari 60% penyaluran dialokasikan ke sektor produksi, dengan porsi mencapai 64,49% dari total penyaluran.Pada periode Januari hingga Maret 2026, BRI berhasil menyalurkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) senilai Rp 47,09 triliun kepada 947 ribu nasabah pinjaman. Sektor pertanian menjadi kontributor utama dengan pembiayaan mencapai Rp 19,86 triliun atau setara 42,16% dari total KUR yang sudah disalurkan.