KOMPAS.com - Di sebuah toko kelontong kecil di Kecamatan Masaran, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, Rini—bukan nama sebenarnya—menjalani rutinitas sebagai agen layanan transaksi keuangan.

Toko sederhana di pinggir jalan itu bukan hanya tempat warga membeli kebutuhan sehari-hari, tetapi juga lokasi berbagai transaksi digital dilakukan.

Sejak pagi hingga malam, warga datang silih berganti untuk tarik tunai, transfer uang, hingga mengisi saldo dompet digital atau e-wallet.Di antara ramainya pelanggan, ada satu hal yang belakangan menarik perhatian perempuan berusia sekitar 40 tahun tersebut, yakni anak-anak usia sekolah yang datang untuk top up saldo digital.

Sebagian masih mengenakan seragam sekolah dasar (SD), sementara lainnya merupakan siswa sekolah menengah pertama (SMP).

Rini mengatakan, anak-anak itu umumnya menggunakan akun e-wallet milik orang tua mereka.