Jakarta - Di kawasan Bendungan Hilir, Jakarta Pusat, deretan lapak kuliner mulai ramai dipadati pengunjung ketika waktu jam makan siang tiba. Dari satu gerai ke gerai lain, aroma berbagai makanan mengepul bercampur dengan riuh percakapan pembeli dan deru suara kendaraan yang lewat.Di salah satu lapak, Asim (50), tampak cekatan melayani pesanan pembeli tanpa henti. Tangannya terampil membolak-balikan ayam bakar pesanan pelanggan yang sudah menunggu berjajar di depan dan samping lapaknya.Di tengah ramainya pembeli itu, kehadiran layanan pembayaran digital QRIS dari PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI menjadi penopang kelancaran usaha milik Asim. Sistem pembayaran nontunai ini membuat alur transaksi usahanya lebih cepat.

"Sekarang hampir semua pakai QRIS, karena lebih cepat, tinggal scan aja, apalagi di sini kebanyakan yang beli karyawan," ujar Asim kepada detikcom di Jalan Walahar Bendungan Hilir, Jakarta Pusat, Senin (29/6/2026).Awalnya Sempat NgojekDi sela-sela melayani pelanggan itu, Asim bercerita bagaimana perjalanannya membangun usaha kuliner dengan nama Ayam Penyet Sidawangi. Sebelumnya, ia sempat melakoni pekerjaan sebagai tukang ojek.Namun, titik baliknya terjadi pada tahun 2013. Didorong oleh keinginan untuk memperbaiki taraf hidup, ia memberanikan diri merintis usaha kuliner ayam bakar ini.Pada awal masa peralihan tersebut, Asim bahkan sempat membagi waktu dan tenaganya demi menjalankan dua profesi sekaligus, menarik ojek di sela-sela waktu senggang sembari mengelola dagangannya."Jadi awalnya ngojek dulu di sekitar sini, terus liat orang pada dagang, jadi saya coba dagang," ungkapnya.Seiring berjalannya waktu, kerja keras Asim berbuah manis. Usahanya terus berkembang hingga akhirnya ia bisa sepenuhnya fokus menjual berbagai hidangan seperti ayam penyet, ayam kremes, ayam dan ikan bakar dengan berbagai varian sambal."Itu puncaknya sebelum COVID, keuntungan saya bisa sampai Rp 1,5 juta sehari dari dagang ini," kenangnya.Foto: Alfi Kholisdinuka/detikcomQRIS BRI Jadi AndalanPandemi COVID-19 datang. Usaha Asim mulai mengalami penurunan. Namun, berkahnya, sejak pandemi itu Asim mulai melek digital dengan mengadopsi QRIS BRI sebagai metode pembayaran di lapaknya.Keputusan ini ia ambil setelah mendapatkan informasi dan edukasi langsung dari pihak BRI setempat yang aktif merangkul para pelaku UMKM. Kini, keputusan masa lalunya itu terbukti tepat.Di era digital saat ini, kehadiran QRIS BRI tak hanya memudahkan pembeli, tetapi juga menjadi motor penggerak usaha Ayam Penyet Sidawangi milik Asim di tengah ramainya pembeli."Kalau rame pembeli kita jadi nggak repot (mikirin) kembalian, pelanggan juga jadi nggak nunggu lama," terangnya.Kemudahan transaksi nontunai ini ternyata memantik kreativitas Asim dalam berdagang. Asim secara mandiri berinisiatif memasang 'Harga Promo Pake BRImo' demi memikat hati para pelanggannya."Ini saya bikin promo inisiatif sendiri. Ya, namanya juga orang dagang, harus bisa menarik customer," ungkap Asim.Asim melihat mayoritas pelanggannya adalah karyawan kantoran yang gemar bertransaksi digital. Celah itu ia manfaatkan dengan memberikan potongan harga khusus yang cukup signifikan bagi pembeli yang membayar menggunakan aplikasi BRImo dari BRI."Jadi harga standarnya itu Rp 23.000 tapi kalau pakai QRIS atau BRImo itu jadi Rp 17.000," ungkapnya.Selisih harga sebesar Rp 6.000 tersebut diakui Asim sangat ampuh menarik perhatian para pekerja di sekitar Benhil. Bagi para karyawan, potongan harga tersebut tentu sangat lumayan untuk menghemat pengeluaran makan siang mereka."Jauh banget kan? Jadi orang akhirnya tertarik dan lebih milih membayarnya pakai BRImo," jelasnya.Penggunaan QRIS BRI ini dinilai membantu denyut usahanya di banding masa awal pandemi COVID-19. Dalam satu hari saja, lapaknya bisa menjual 100 porsi lebih ayam bakar, ayam penyet, hingga ayam kremes."Sekarang omzet-nya Rp 1,5 juta sehari, walaupun nggak sama kaya sebelum COVID tapi tetap alhamdulillah," tutur Asim.Foto: Alfi Kholisdinuka/detikcomTerbantu KUR BRITidak hanya mengandalkan QRIS BRI, Asim pun merasakan manfaat dari dukungan permodalan yang diberikan oleh BRI melalui fasilitas Kredit Usaha Rakyat (KUR). Dukungan finansial ini menjaga napas usahanya tetap panjang di tengah tantangan ekonomi.Ia mengaku telah memanfaatkan fasilitas KUR BRI sebanyak dua kali di KCP BRI Bendungan Hilir. Pinjaman pertama sebesar Rp 25 juta terjadi 2017. Kemudian ia mengajukan pinjaman kembali dengan plafon yang lebih besar Rp 50 juta.Saat ini, pinjaman keduanya tengah berjalan dengan tenor selama empat tahun. Asim memilih jangka waktu tersebut untuk menyesuaikan cicilan agar tetap selaras dengan pendapatan harian yang ia dapatkan, sehingga beban usahanya tetap terjaga.Menurut Asim, salah satu keunggulan utama layanan KUR BRI adalah kemudahan aksesnya bagi pelaku UMKM. Ia tidak merasakan birokrasi yang berbelit-belit saat mengajukan pinjaman."Itu mudah pengajuannya, asal ada usahanya. Terus cairnya juga cepat, kurang lebih semingguan," tuturnya.Modal yang didapat dari KUR tersebut ia alokasikan secara bijak. Tidak hanya untuk menambah modal usaha agar stok bahan baku lebih terjaga, dana tersebut juga membantu memenuhi kebutuhan usaha mendesak lainnya.Kata PembeliSementara itu, salah satu pembeli, Aska (28) karyawan swasta mengaku senang dengan lapak Ayam Penyet Sidawangi. Ia hampir setiap minggu bersantap di lapak milik Asim saat jam makan siang."Selain rasanya oke, harganya juga murah, cuman Rp 17 ribu pakai QRIS," ungkapnya.Selain Aska, Hana (34) pegawai bank di kawasan Benhil juga mengaku jadi pelanggan setia Ayam Penyet Sidawangi milik Asim. Ia biasa membeli bersama rekan kantornya untuk dimakan bersama di meja kantor."Sering tapi belinya dibungkus, karena biasanya antre, tapi bayarnya cepet pakai QRIS," terangnya.Foto: Alfi Kholisdinuka/detikcomUMKM Pilar EkonomiSementara itu, pada kesempatan terpisah, PT Bank Rakyat Indonesia (Tbk) (BRI) terus memperkuat UMKM sebagai tulung punggung ekonomi nasional. BRI berperan sebagai penyalur utama Kredit Usaha Rakyat (KUR) terbesar di Indonesia dalam mendukung program pemerintah.Secara konsolidasi, total aset BRI tercatat mencapai Rp2.250 triliun pada akhir Maret 2026, tumbuh 7,2% secara tahunan (year-on-year/yoy). Hal itu ditopang oleh penyaluran kredit yang menunjukkan akselerasi yang solid.Hingga kuartal I-2026, total kredit BRI mencapai Rp1.562 triliun, tumbuh 13,7% yoy. Dan segmen UMKM menjadi tulang punggung bisnis, dengan total penyaluran mencapai Rp 1.211 triliun. Hal ini menegaskan fokus BRI dalam mendukung sektor riil dan ekonomi kerakyatan."Segmen UMKM tetap menjadi pilar utama dalam portfolio pembiayaan BRI, dengan total penyaluran mencapai Rp 1.211 triliun" jelas Direktur Utama BRI Hery Gunardi dalam Press Conference Kinerja Keuangan Triwulan I 2026 di Kantot Pusat BRI, Kamis (30/4/2026)."Penyaluran tersebut tidak hanya mencerminkan skala dan jangkauan layanan BRI yang luas, tetapi juga menjadi katalis dalam mendorong pertumbuhan usaha produktif, meningkatkan kapasitas UMKM, serta menciptakan lapangan kerja di berbagai daerah," imbuhnya.Transaksi QRIS MelonjakDi sisi lain, Direktur Network and Retail Funding BRI Aquarius Rudiantoro menambahkan pada kuartal I 2026 ini, kanal digital BRI mencatatkan pertumbuhan double digit.Pengguna super app BRImo telah mencapai 47,8 juta atau tumbuh 18,6%, dengan volume transaksi tembus Rp2.042,2 triliun atau naik 29,4% yoy.Di sisi lain, transaksi berbasis QRIS juga melonjak 76% dengan volume transaksi mencapai ribuan triliun rupiah.BRI juga terus komitmen menjalankan berbagai program untuk pelaku UMKM. Hal ini bertujuan untuk memperkuat kapasitas usaha masyarakat sekaligus memperluas pertumbuhan ekonomi kerakyatan di berbagai wilayah.