Jakarta - Pandemi COVID-19 pada 2020 tak hanya menyisakan catatan kelam, namun di sisi lain, melahirkan para pelaku usaha tangguh. Salah satunya adalah Aisyah Ratna Wulandari, sosok perempuan di balik suksesnya brand Kebab Frozen Endul.Berangkat dari sebuah rumah kontrakan, Aisah berhasil mengubah tantangan menjadi peluang bisnis frozen food yang kini menyuplai ratusan reseller hingga menembus jaringan Hotel, Restoran, dan Cafe (Horeca).Usahanya kini berdiri di sebuah kios sederhana di Jalan Bintara, Kota Bekasi, Jawa Barat. Pagi itu, Aisyah menceritakan dengan ramah bagaimana dirinya bisa membangun usaha dari skala rumahan hingga berkembang seperti sekarang.

"Sebenarnya, awal mula Kebab Endul itu saya melihat adanya ruang di sektor frozen food. Jadi sebenarnya Kebab Endul ini bergeraknya di frozen-nya. Karena pas pandemi, waktu itu kan banyak kebutuhan makanan praktis dari masyarakat," ujarnya kepada detikcom belum lama ini.Peluang Usaha di Balik Ujian PandemiAisyah menuturkan saat pandemi melanda ia diterpa berbagai ujian. Pekerjaan suaminya hilang, sementara kantin sekolah tempatnya berjualan makanan terpaksa tutup. Di saat yang bersamaan, buah hatinya juga divonis menderita sakit jantung.Untungnya, tak lama kemudian, peluang usaha datang saat suaminya mendapat pekerjaan di pabrik kebab frozen. Aisyah memanfaatkan momentum itu untuk membeli produk kebab dengan skema maklon tanpa merek kemudian menempelkan merek sendiri.Pemasarannya dilakukan melalui jejaring grup WhatsApp orang tua murid hingga arisan warga dengan sistem pre-order (PO). Produk pertama yang dijual adalah kebab frozen seharga Rp 40 ribu per kotak berisi 10. Dalam waktu lima bulan, usahanya tumbuh dan mulai memiliki jaringan reseller.Namun, ujian kembali datang saat pabrik frozen tempat suaminya bekerja mendadak bangkrut, membuat usahanya vakum dua bulan. Aisyah kemudian memberanikan diri merintis usaha kebab sendiri saat banyak pesanan dari pelanggan setianya."Akhirnya, mau nggak mau, kita harus bisa bikin sendiri. Berbekal ilmu suami dari tempat kerjanya, akhirnya kita bisa bikin sendiri. Dan bahkan, ya kita inovasi lah gitu kan," jelasnya.Foto: Alfi Kholisdinuka/detikcomModal Awal Rp 5 JutaAisyah mengaku usahanya dibangun tanpa modal besar, apalagi ruang produksi yang megah. Ia hanya memanfaatkan sudut rumah kontrakannya dan peralatan seadanya. Ia sadar melangkah di tengah krisis artinya harus siap bersahabat dengan keterbatasan."Awal banget itu modal Rp 5 juta. Itu tuh udah mencakup semuanya ya, freezer sama burner untuk slicing daging. Kita semuanya beli second. Freezer beli second, burner beli second. Selebihnya kita menggunakan barang-barang yang ada di rumah... Karena emang modalnya sangat-sangat terbatas, jadi kita start dari small. Yang penting berjalan aja, gitu," jelasnya.Menariknya, modal Rp 5 juta itu pun didapatkan dari hasil kerja sama bagi hasil dengan tetangganya. Berbekal permintaan pasar yang sudah terbentuk dari sistem maklon sebelumnya, sang tetangga pun memercayakan modalnya."Jadi berbekal nekat tapi ada demand. Jadi aku berani untuk menawarkan ke orang lain kerja sama. Karena demand-nya udah ada, marketnya udah ada. Dalam jangka waktu setahun uangnya udah kita balikin. Jadi itu di 2021, akhirnya kita bisa memproduksi lebih banyak, dan frezer kita udah nambah," ungkapnya.Inovasi ProdukAisyah mengaku lebih leluasa saat memproduksi kebab sendiri dibanding menjual dengan sistem maklon. Sebab, ia bisa berinovasi membuat berbagai macam rasa kebab yang sesuai atas permintaan konsumennya."Kalau sebelumnya kan kita mengambil produk di orang lain, jadi kita tidak bisa banyak request. Ketika ada masukan dari konsumen bahwa ada rasa yang kurang, kita tidak bisa berbuat apa-apa. Tapi begitu bikin sendiri, produknya akhirnya bisa di-custom sesuai keinginan pasar," jelas Aisah.Aisyah mengatakan awalnya varian Kebab Frozen Endul hanya daging original biasa. Namun, setelah memproduksi sendiri berkembang jadi ada varian kebab keju, kebab mozzarela, kebab ayam, hingga kebab ikan bandeng."Ternyata respon dari customer kita jauh lebih baik dibanding yang sebelumnya. Karena kalau kita bikin sendiri, akhirnya bisa custom dan bisa berinovasi," tuturnya.Foto: Alfi Kholisdinuka/detikcomPerluas PemasaranSeiring meningkatnya penjualan, pada 2022 Aisyah kemudian menyewa kios sederhana Rp 15 juta per tahun di Jalan Bintara, Kota Bekasi, Jawa Barat. Kios tersebut jadi pusat dapur produksinya yang dibantu oleh keluarganya.Ia juga terus memperluas jaringan pemasaran melalui reseller yang menjual kembali produknya. Hingga kini, sistem ini jadi salah satu penggerak utama pertumbuhan bisnisnya.Saat ini, Kebab Endul memiliki sekitar 300 reseller yang tersebar luas di wilayah Jabodetabek, Bandung, Cirebon, hingga Makassar. Untuk pengiriman luar pulau seperti Makassar, Aisyah sekali kirim bisa menyuplai hingga 2.500 pieces kebab."Kalau reseller itu minimal ordernya sekian. Harga diskonnya sekian. Kalau agen minimal ordernya sekian. Diskonnya sekian. Distributor beda lagi. Jadi makin banyak pesannya diskon juga banya mulai 5% sampai 25%," tuturnya.Selain itu, Kebab Frozen Endul juga kian agresif masuk ke pasar B2B. Produk mereka kini rutin menyuplai kebutuhan Horeca (Hotel, Restoran, dan Cafe), rumah sakit, hingga kantin-kantin instansi."Selain dari reseller, sekarang kita juga supply ke Horeca Hotel, Restoran, cafe. Terus kita juga supplya ke toko frozen. Kalau swalayan kita sudah masuk di Fortuna Swalayan sama di K3 Mart," tuturnya.Foto: Alfi Kholisdinuka/detikcomProduksi Setiap HariDiketahui, Aisyah dibantu pegawainya 11 orang kini bisa memproduksi setidaknya 100 boks atau setara dengan 1.000 pieces kebab setiap harinya, atau 25.000 pieces kebab per bulan. Hal ini dilakukan untuk memenuhi stok permintaan pasar."Sekarang kita bukan by PO ya, jadi kita nyetok. Kan kita udah banyak B2B nih. Kalau B2B tuh dia ordernya langsung banyak sekaligus. Nggak mungkin ketika dia order, 'oh ya nanti saya bikin dulu, nanti 3 hari lagi baru saya kirim.' Jadi kita harus punya stock. Makanya kita produksi setiap hari meskipun hari itu gak ada orderan," jelasnya.Seiring dengan meningkatnya produksi ini, Kebab Frozen Endul juga menerapkan konsep Zero Waste. Sisa kulit kebab atau tortilla dari proses produksi tidak dibuang begitu saja, melainkan diolah kembali menjadi produk camilan."Karena produksinya banyak, waste-nya kan jadi banyak yang terbuang. Dalam rangka kepedulian kita terhadap lingkungan, ya kita buat itu jadi cemilan yang bernilai. Karena kan sekarang isu sustainability juga lagi naik, jadi kita juga mau ikut berkontribusi di sana," jelasnya.Adapun total hasil dari penjualannya ini, Aisyah bisa mengantongi omzet bulanan yang menggiurkan. "Kalau untuk sekarang, paling besarnya kita bisa menyentuh di angka Rp 100 juta per bulan," ungkap Aisyah.Capaian omzet tersebut paling dominan disumbang oleh lini bisnis B2B, seperti pasokan rutin ke swalayan dan jaringan Horeca yang memesan dalam volume besar sekaligus.Meski demikian, kehadiran ratusan reseller tetap menjadi fondasi penting karena memiliki tingkat perputaran dan repeat order yang sangat tinggi setiap bulannya.Foto: Alfi Kholisdinuka/detikcomPendampingan Rumah BUMN BRIAisyah mengaku perjalanan usahanya ini tidak terlepas dari pendampingan usaha dari Rumah BUMN BRI di Jalan Letjen S Parman, Jakarta Barat. Sejak bergabung pada 2023, ia rutin mengikuti pelatihan bagaimana menghadapi kenaikan harga bahan baku, persaingan pasar, hingga perubahan preferensi konsumen.Di Rumah BUMN BRI ini, ia juga dikenalkan dengan platform pemberdayaan UMKM dari BRI yakni LinkUMKM. Platform tersebut ia gunakan sebagai sarana evaluasi berkala untuk memantau arah pertumbuhan usahanya."Saya pertama kali mengenal dan mulai menggunakan platform LinkUMKM sejak menjadi bagian dari UMKM binaan Rumah BUMN Jakarta. Menurut saya, platform ini sangat membantu dalam memetakan posisi serta perkembangan usaha," jelasnya."Saya juga sering memanfaatkan fitur self-assessment untuk mengetahui sejauh mana skala bisnis meningkat dari tahun ke tahun. Fitur tersebut juga membantu saya mengenali potensi dan kekurangan yang perlu dibenahi, seperti kebutuhan sertifikasi halal dan aspek legalitas lainnya," katanya.Selain platform LinkUMKM, Aisyah juga terpilih mengikuti program Growpreneur BRI. Program ini bukan sekedar pelatihan biasa, karena berlangsung sangat intensif selama dua bulan, di mana hanya ada 10 UMKM terpilih yang bisa masuk ke dalam kelas.Saat mengikuti Growpreneur BRI ini, operasional Kebab Endul benar-benar dibedah total dari berbagai sisi. Mulai dari design thinking, HR management, branding dan marketing, hingga manajemen keuangan."Itu sebelumnya aku belum pernah belajar. Karena ya seperti yang udah kuceritain, aku start dari yang sangat kecil. Terus nggak punya basic business juga. Karena aku nggak punya belum pernah kerja di corporate. Jadi juga nggak begitu paham gitu ya sama hal-hal seperti itu. Masalah experience dan semacamnya," jelasnya."Jadi ikut pelatihan di Growpreneur BRI itu bener-bener banyak banget insight gitu yang aku dapetin. Dan bisa aku terapin di bisnisku gitu. Dan dari situ bener-bener terasa sama perubahannya," terangnya.Melalui proses bedah bisnis yang intensif tersebut, Aisah berhasil membawa Kebab Frozen Endul keluar sebagai Best of the Best di sektor Food and Beverage (F&B).Kata PelangganSementara itu, kehadiran Kebab Endul di Bekasi ini turut diapresiasi oleh salah satu pelanggan setia. Andini, misalnya, ia menyebut isi dari Kebab Frozen Endul sayur dan dagingnya sangat pas."Biasanya kalau beli kebab frozen itu isinya banyakan sayur atau saus doang yang bikin enek. Tapi Kebab Endul ini sesuai namanya. Isian dagingnya padat, bumbunya meresap sampai ke kulitnya. Harga sebanding banget sama kualitas rasanya," ungkapnya.Selain itu, Dewi, salah seorang ibu rumah tangga juga mengaku puas dengan kemitraan dari Kebab Endul ini. Ia mengaku sudah jadi reseller sejak zaman pandemi."Jadi reseller Kebab Endul dari zaman pandemi sampai sekarang gak pernah ngecewain. Pelanggan saya selalu repeat order karena rasanya emang konsisten enak," jelasnya.Foto: Alfi Kholisdinuka/detikcomLinkUMKM Bantu UMKMSementara itu, pada kesempatan terpisah, Direktur Micro BRI Akhmad Purwakajaya mengapresiasi keberhasilan UMKM Kebab Frozen Endul. Hal ini dinilai merefleksikan pemanfaatan LinkUMKM secara nyata untuk memetakan kebutuhan penguatan usaha, memperluas akses pembelajaran dan pendampingan, serta mendorong perluasan pasar secara lebih terukur."LinkUMKM dirancang untuk membantu pelaku UMKM memperkuat kapasitas usaha melalui pemetaan kondisi bisnis, pembelajaran yang aplikatif, serta akses jejaring dan pasar," ujarnya"Melalui proses tersebut, pelaku usaha dapat menyusun prioritas pengembangan secara lebih terukur, mulai dari pemenuhan kebutuhan dasar usaha hingga perluasan kanal pemasaran sesuai tahap pertumbuhan. Ke depan, BRI mendorong UMKM Indonesia untuk naik kelas dan semakin berperan dalam perekonomian nasional," jelasnya.