PERANG di abad modern tidak lagi selalu hadir dalam bentuk dentuman meriam, deru pesawat tempur, atau perebutan wilayah secara terbuka sebagaimana yang membekas dalam sejarah perang-perang besar dunia.
Konflik kini bergerak jauh lebih senyap, sistematis, dan kompleks, menembus ruang-ruang kehidupan paling dasar manusia. Salah satu wajah baru yang paling mengkhawatirkan dari perubahan itu, adalah ketika pangan dijadikan alat penghancur. Dan, kelaparan dipelihara sebagai strategi perang.
Makanan yang semestinya menjadi sumber kehidupan perlahan berubah menjadi instrumen tekanan politik, alat negosiasi kekuasaan, bahkan senjata untuk melumpuhkan daya tahan sosial suatu bangsa.
Di titik inilah perang tidak lagi sekadar menghancurkan wilayah, melainkan juga menghancurkan kemampuan manusia untuk bertahan hidup.
Laporan lembaga riset Insecurity Insight yang mencatat lebih dari 21 ribu insiden kekerasan berbasis pangan dalam delapan tahun terakhir, memperlihatkan bahwa dunia sedang menghadapi perubahan besar dalam pola konflik global.















