KUALA LUMPUR, KOMPAS.com - Rencana pemerintah Indonesia untuk memusatkan ekspor sejumlah komoditas strategis, termasuk minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO), memicu kekhawatiran pelaku industri sawit Malaysia.

Mereka menilai kebijakan baru tersebut berpotensi mengganggu arus perdagangan global dan memicu volatilitas harga minyak nabati dunia dalam jangka pendek.Kekhawatiran itu muncul setelah Presiden Prabowo Subianto mengumumkan rencana pemerintah untuk menunjuk satu lembaga negara sebagai eksportir tunggal berbagai komoditas utama Indonesia, seperti minyak sawit, batu bara, dan ferroalloy.

Baca juga: Biaya Pupuk dan BBM Naik, Peremajaan Sawit Malaysia Melambat

SHUTTERSTOCK/Nirapai Boonpheng Ilustrasi minyak sawit.

Kebijakan tersebut dijadwalkan mulai berjalan penuh pada September 2026 melalui unit baru di bawah Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara), yakni PT Danantara Sumberdaya Indonesia (PT DSI).