SETIAP kali bom mengguncang kawasan Timur Tengah, dunia seakan terkejut.

Seolah perang adalah anomali, sebuah kecelakaan sejarah yang seharusnya tak terjadi di Abad yang mengklaim dirinya modern.Padahal, jika kita membaca sejarah dengan jujur—bukan dengan kacamata moralis—kita akan menemukan kesimpulan yang justru berlawanan: perang antarbangsa adalah keniscayaan sosiologis yang terulang dengan ritme yang hampir teratur, seperti pasang surut air laut.

Ini terpotret dari perkembangan ketegangan geopolitik paling mutakhir—di mana hingga saat ini—Amerika Serikat dan Iran masih terjebak dalam kebuntuan diplomatik yang belum menemui titik temu.

Presiden AS Donald Trump bersikeras tidak akan mengakhiri perang selama Iran tidak melepaskan ambisi nuklirnya, sementara Teheran tetap enggan menyerah meskipun berada di bawah tekanan blokade laut yang melumpuhkan ekonomi mereka.

Konflik bersenjata yang kini menyeret Amerika Serikat beserta koalisi proksinya berhadapan dengan Iran adalah salah satu manifestasi terbaru dari fenomena lama itu.