NUSANTARA, KOMPAS.com - Ketergantungan terhadap dana pusat dan jeratan utang perbankan kerap menjadi sandungan utama bagi pemeringkatan ekonomi perdesaan di Indonesia.

Banyak program Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) berakhir mangkrak begitu kucuran stimulus daerah terhenti.

Namun, Desa Ketapanrame di Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, mengeksekusi pendekatan yang berbeda melalui skema pendanaan swadaya massal (crowdfunding) berbasis kepemilikan saham warga lokal.Baca juga: BI Balikpapan Saring UMKM Masuk Pasar Digital agar Tak Jadi Penonton di IKN

Melalui restrukturisasi tata kelola BUMDes Mutiara Welirang, desa ini membiayai pembangunan unit-unit usaha wisatanya tanpa melibatkan pemodal besar dari luar maupun pinjaman institusi keuangan.

Model investasi ini memungkinkan sirkulasi akumulasi modal agar tetap berputar di dalam kelolaan desa, sekaligus menjadi instrumen redistribusi pendapatan yang efektif untuk menekan angka kemiskinan struktural di tingkat akar rumput.