DI TENGAH gegap gempita program bantuan pendidikan dan sekolah rakyat yang terus dipromosikan pemerintah, publik justru disentakkan oleh sebuah ironi yang menyakitkan.

Di satu sisi, negara menganggarkan puluhan miliar rupiah untuk pengadaan sepatu bagi siswa dan guru.Di sisi lain, seorang pelajar SMK di Samarinda diduga meninggal dunia setelah berbulan-bulan memakai sepatu kekecilan karena keluarganya tak mampu membeli yang baru.

Tragedi itu bukan sekedar kisah pilu tentang kemiskinan. Ia adalah cermin retak dari cara negara memahami pendidikan: sibuk pada simbol, tetapi sering terlambat menyentuh kebutuhan paling dasar manusia.

Data yang beredar menunjukkan anggaran pengadaan sepatu siswa Sekolah Rakyat mencapai Rp 27,5 miliar untuk sekitar 39.345 siswa.

Sementara pengadaan sepatu guru mencapai Rp. 5,5 miliar untuk 3.979 guru.