KETIKA sebuah perang berlangsung berbulan-bulan tanpa tujuan yang dapat diukur secara jelas, kemenangan tidak lagi ditentukan oleh keunggulan militer semata, melainkan oleh kemampuan pemerintah mempertahankan legitimasi politik di hadapan rakyatnya.

Itulah kini terjadi di Amerika Serikat ketika perang melawan Iran memasuki bulan ke-5. Sementara mayoritas warga negaranya justru menilai operasi tersebut gagal mencapai sasaran strategis yang dijanjikan sejak awal.Jajak pendapat Marquette Law School Supreme Court pada akhir Juli 2026 menunjukkan, 88 persen warga Amerika meyakini perang terhadap Iran belum mencapai tujuannya, sedangkan hanya 12 persen yang menganggap operasi tersebut berhasil.

Lebih jauh lagi, 75 persen responden menilai perang tidak sebanding dengan biaya dikeluarkan, memperlihatkan adanya jurang semakin lebar antara narasi resmi pemerintah dengan persepsi publik mengenai efektivitas kebijakan luar negeri Washington.

Fenomena ini mengingatkan, dalam negara demokrasi modern, dukungan domestik merupakan sumber daya strategis sama pentingnya dengan kekuatan militer.

Sejarah politik Amerika menunjukkan, perang dapat dimenangkan di medan tempur, tetapi kehilangan legitimasi ketika masyarakat mulai mempertanyakan manfaat, biaya, serta arah akhir dari konflik yang dijalankan pemerintahnya.