Jakarta -

Pemerintah Jepang menurunkan pajak konsumsi atas makanan menjadi 1% selama dua tahun mulai April 2027. Saat ini, tarif pajak konsumsi untuk makanan sebesar 8%.Keputusan tersebut disetujui dalam rapat kabinet luar biasa pada Rabu. Selain memangkas tarif pajak menjadi 1%, pemerintah juga akan memberikan manfaat tambahan sehingga beban pajak bagi masyarakat berpendapatan rendah dan menengah secara efektif menjadi 0%.Pemerintah menyatakan akan meninjau seluruh pos belanja dan sumber penerimaan negara untuk memastikan ketersediaan anggaran. Ditegaskan pula bahwa obligasi tak akan digunakan untuk menutup defisit anggaran.

Keputusan final terkait sumber pendanaan akan ditetapkan dalam proses penyusunan anggaran tahun fiskal 2027. Perdana Menteri (PM) Jepang, Sanae Takaichi mengatakan, pihaknya optimistis mampu menyediakan anggaran yang dibutuhkan."Kami akan melakukan peninjauan dari nol terhadap seluruh rekening khusus, dana pemerintah, dan berbagai pos lainnya. Saya yakin kami dapat menyediakan anggaran yang dibutuhkan melalui reformasi tersebut," ujar Takaichi dikutip dari NHK, Jumat (7/8/2026).Ketua Federasi Bisnis Jepang (Keidanren) Tsutsui Yoshinobu mengatakan, pemotongan pajak tersebut akan berdampak pada pendanaan jaminan sosial. Ia menyebut pemerintah perlu melihat persoalan ini dari sudut pandang masyarakat dan berupaya meredakan kekhawatiran mereka."Saya rasa pemerintah harus menjelaskan sumber pendapatan penggantinya. Saya juga menilai sangat penting agar kebijakan ini benar-benar berakhir setelah dua tahun, seperti yang telah dijanjikan pemerintah," kata Yoshinobu.Pemerintah berencana mengajukan rancangan undang-undang reformasi perpajakan dalam sidang luar biasa parlemen yang diperkirakan berlangsung pada musim gugur.Industri Makanan TerbelahRespons pelaku industri makanan di Jepang terhadap keputusan tersebut cukup beragam. Pajak untuk makanan yang dibawa pulang atau takeout akan dipangkas dari 8% menjadi 1%.Sementara itu, pajak untuk makanan yang disantap di tempat atau dine-in tetap 10%, sehingga memunculkan kekhawatiran akan turunnya penjualan restoran. Seorang pegawai toko makanan takeout di Tokyo berharap kebijakan tersebut membawa dampak positif."Karena harga sekarang lebih mahal, pelanggan tampaknya mulai mengurangi pembelian. Saya berharap tarif pajak 1% bisa mendorong mereka kembali berbelanja lebih banyak," ujarnya.Pemilik restoran yakitori yang menyediakan tempat makan mengaku khawatir. Ia menilai pajak yang lebih rendah untuk makanan takeout dapat membuat pelanggan enggan makan di restoran."Sebagian pelanggan mungkin akan menganggap membeli makanan untuk dibawa pulang lebih menguntungkan. Itu bisa mengurangi jumlah pelanggan yang makan di sini. Kami harus memikirkan cara untuk menghadapi potensi penurunan tersebut," katanya.Para pelaku usaha restoran kini terus mempertimbangkan langkah yang akan diambil untuk menyesuaikan diri dengan perubahan kebijakan pajak tersebut sekaligus tetap melayani pelanggan.