Madrid -
Spanyol mengutuk reaksi Uni Eropa terkait masuknya sekitar 60.000 migran ilegal dari Maroko ke wilayah kantong Spanyol di Ceuta. Spanyol menganggap reaksi sejumlah negara Eropa egois, memecah belah, dan melanggar hukum.Dilansir BBC, Minggu (2/8/2026), para pejabat Spanyol mengatakan hampir semua yang tiba di Ceuta pada 30 Juli telah kembali ke Maroko. Sementara, menteri dalam negeri Spanyol mengatakan jumlah korban tewas akibat lonjakan penyeberangan telah meningkat menjadi setidaknya 67 orang.Italia untuk sementara menangguhkan perjanjian Schengen bebas perbatasan Uni Eropa dengan Spanyol. PM Italia Giorgia Meloni menyebut situasi di Ceuta 'mengejutkan'. Finlandia dan Denmark mendukung langkah Italia, sementara PM Ceko Andrej Babiš mendesak penangguhan sementara keanggotaan Schengen Spanyol.
Para menteri dalam negeri Uni Eropa akan bertemu pekan depan melalui konferensi video untuk membahas masalah ini. Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez telah menyerukan pertemuan mendesak untuk menegaskan bahwa keamanan perbatasan eksternal Eropa adalah tanggung jawab bersama semua Negara Anggota Uni Eropa.Sebanyak 22 dari 27 negara Uni Eropa juga menyerukan pembicaraan darurat dalam sebuah surat terbuka. Mereka merasa ada 'kekhawatiran serius' mengenai perkembangan di Ceuta. Negara-negara tersebut telah mengapresiasi kerja sama erat Spanyol dan Maroko untuk pemulangan migran ilegal dengan cepat. Tetapi, mereka mengatakan konferensi video akan membantu mencapai kesepakatan tentang mobilisasi instrumen Uni Eropa dan dukungan untuk Spanyol guna memulihkan 'kontrol efektif' perbatasan dan mencegah penyeberangan tanpa kendali lebih lanjut.












