NUSANTARA, KOMPAS.com - Rencana Pemerintah Indonesia mendirikan Pusat Finansial Internasional (Special Financial Center) memicu perdebatan mengenai penentuan lokasi yang paling siap menerima limpahan modal global.
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, secara terbuka menolak penempatan pusat finansial tersebut di Ibu Kota Nusantara (IKN), Kalimantan Timur, dengan alasan kondisi lapangan yang masih sepi.
Baca juga: Pusat Finansial Internasional IKN Ditolak Purbaya, Otorita Ogah KomentarKritik dari bendahara negara ini direspons dengan sikap bungkam oleh Otorita IKN melalui Staf Khusus Komunikasi Publik, Troy Pantouw, yang enggan memberikan komentar resmi.
Gagasan pembentukan Pusat Finansial Internasional ini awalnya muncul dari Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan yang mengusulkan Bali sebagai lokasi strategis.
Presiden Prabowo Subianto menyambut baik gagasan ini dengan menilai momentum sekarang tepat untuk menangkap peluang migrasi modal asing asal Rusia, Ukraina, serta limpahan likuiditas dari Timur Tengah yang mencari suaka investasi aman dari konflik geopolitik.












