GUGURNYA Sersan Senior Milovan Jovanovic, prajurit penjaga perdamaian (UN peacekeeper) asal Serbia di Marjayoun, Lebanon selatan, pada Kamis (4/6/2026), menjadi lonceng kematian terbaru yang mengguncang misi UNIFIL (United Nations Interim Force in Lebanon).
Serangan mortir tidak langsung (indirect fire) yang menyasar posisinya bukan sekadar insiden sektoral, melainkan penanda kuat bahwa ruang gerak pasukan "Baret Biru" di sepanjang 120 kilometer Garis Biru (Blue Line) telah bergeser menjadi labirin maut yang tak lagi menghormati hukum internasional.
Tragisnya, bagi publik Indonesia, duka yang dialami Serbia ini mengorek kembali luka dalam: dari total tujuh personel UNIFIL yang gugur sejak eskalasi Maret lalu, empat di antaranya adalah prajurit TNI Kontingen Garuda.Ironisnya, serangan fatal yang menewaskan prajurit Serbia serta melukai dua personel lain dari Spanyol dan El Salvador ini terjadi justru hanya beberapa jam sebelum pengumuman draf kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi oleh Amerika Serikat.
Baca juga: Bintang Jasa di Tengah Bayang-bayang Korupsi
Penolakan langsung dari kelompok Hezbollah, yang diikuti oleh keengganan militer Israel (IDF) untuk menarik pasukannya dari perbatasan, menegaskan realitas pahit: UNIFIL kini terjebak sebagai sandera di tengah perang proksi (proxy war) modern yang kian beringas.












