SURABAYA, KOMPAS.com - Terletak di sebuah gang di jalan Banyu Urip Lor Surabaya, Jawa Timur, aktivitas warga dimulai saat sebagian besar kota masih terlelap.

Asap dari tungku dan aroma lontong yang dibalut daun pisang menjadi penanda kehidupan Kampung Lontong, sentra produksi lontong yang sudah puluhan tahun menjaga denyut kuliner khas Kota Pahlawan.

Di kampung inilah, Pak Pele salah satu warga yang menjalani kesehariannya sebagai pembuat lontong. Usaha yang di tekuni bukan sekadar pekerjaan, melainkan bagian dari tradisi panjang yang diwariskan turun-temurun.Baca juga: Legenda Kuliner Makassar, Songkolo Bagadang Alhamdulillah Tetap Eksis Sejak Era 90-an

“Sudah sejak tahun 2000 usaha lontong ini, dulu itu saya jualan tahu tek terus tetangga itu jualan lontong. Kelihatan perkembangannya pesat, istri belajar di tetangga gitu,” kata pria berusia 49 tahun itu kepada Kompas.com.

“Setelah belajar terus jualan sendiri, pertama kali masih dikulak teman lalu mulai bertambah banyak, istri jualan sendiri di pasar kedung rukem, saya ikut jualan juga di pasar genteng,” imbuhnya.