Jakarta - Harga hewan kurban di Gaza melonjak drastis. Direktur Kamar Dagang Gaza, Maher al-Tabbaa, menyebut harga seekor hewan kurban kini menembus US$ 6.000-7.000 atau sekitar Rp 106 juta-Rp 124 juta (kurs Rp 17.800) dari sebelumnya hanya sekitar US$ 500 sebelum perang.Selain harga, pasokan hewan kurban di Gaza juga terbatas. Juru Bicara Kementerian Pertanian yang dikelola Hamas, Raafat Asaliya, mengatakan bahwa daerah di Gaza Timur sebelum perang biasanya mengimpor sekitar 10.000 hingga 20.000 anak sapi dan sekitar 30.000 hingga 40.000 domba setiap tahun menjelang Idul Adha.Namun, karena perang berlangsung, banyak peternakan, kandang, dan gudang pakan telah hancur.

"Dengan adanya perang dan penutupan perlintasan, impor berhenti total," kata Asaliya kepada Xinhua, dikutip dari Antara, Kamis (28/5/2026).Ia mengatakan selama hampir tiga tahun ini, masyarakat Gaza sudah tidak lagi merasakan meriahnya perayaan Hari Raya Idul Adha."Tidak ada yang tahu berapa banyak lagi Idul Adha tanpa kurban yang harus dijalani warga Gaza," sambungnya.Pedagang ternak, Salah Afana, membenarkan bahwa harga telah naik beberapa kali lipat sejak meletusnya perang, sementara permintaan hewan kurban "hampir tidak ada lagi" akibat kemiskinan yang meluas."Banyak hewan mati karena serangan udara, kekurangan pakan, dan kolapsnya layanan veteriner. Pada saat bersamaan, tidak ada ternak yang masuk ke Gaza akibat penutupan perlintasan," tambahnya.Bagi Ahmed Nashwan, seorang pria Palestina dari Jalur Gaza, hari raya itu justru mengingatkan pada penderitaan dan kesedihan yang disebabkan oleh perang.Untuk tahun ketiga berturut-turut, ia tidak pergi bersama saudara-saudara laki-laki dan putra-putranya ke pasar ternak untuk memilih hewan kurban, salah satu tradisi paling ikonik dari Idul Adha."Kami biasanya berkumpul sebagai keluarga untuk memilih hewan kurban, mempersiapkan hari raya, dan membagikan daging kepada kerabat serta keluarga miskin," ujarnya.Mohammed al-Hissi (40), seorang ayah empat anak dari Gaza City, mengatakan kepada Xinhua bahwa hewan kurban menjadi hampir tidak mungkin diperoleh karena kelangkaan parah dan harga yang melonjak."Idul Adha dulunya selalu menjadi salah satu masa paling membahagiakan bagi keluarga kami. Anak-anak saya biasanya bangun pagi, mengenakan pakaian baru, dan menemani saya mengunjungi kerabat setelah kami membagikan daging," katanya."Tetapi saat ini, semuanya telah berubah akibat perang dan memburuknya kondisi kemanusiaan di Gaza. Sebagian besar keluarga tidak lagi dapat memikirkan untuk membeli hewan kurban karena harganya sangat tinggi dan masyarakat telah kehilangan pendapatan serta rumah mereka," katanya.