Jakarta - Harga berbagai perlengkapan rumah tangga atau perabot di Pasar Jatinegara, Jakarta Timur, melonjak tajam. Kenaikan harga ini merupakan buntut dari gangguan rantai pasok hingga pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang kini berada di kisaran Rp 17.600-an.Pedagang perabot di Pasar Jatinegara, Anggi, mengatakan kenaikan harga sudah terjadi dalam sebulan terakhir. Perubahan harga cukup bervariasi tergantung jenis dan bahan baku barang, di mana kenaikan tertinggi terjadi pada produk berbahan plastik."Panci aluminium yang dulunya Rp 100.000 sekarang Rp 135.000, semuanya naik. Kalau gelas yang dulu Rp 30.000, sekarang Rp 40.000. Cuma kalau barang plastik itu yang lebih tinggi lagi naik harganya. Kayak gelas plastik yang biasa Rp 10.000 sekarang sudah Rp 25.000, lebih dari dua kali lipat," ujarnya saat ditemui detikcom, Kamis (21/5/2026).

"Box plastik yang biasanya Rp 80.000 sekarang jadi Rp 120.000-130.000. Kenaikan paling tinggi memang barang plastik. Toples-toples buat kerupuk yang biasanya Rp 10.000, sekarang sudah Rp 20.000," sambung Anggi.Ia yang sudah berdagang perabot di Pasar Jatinegara selama 14 tahun terakhir menyebut kenaikan harga kali ini menjadi yang tertinggi yang pernah terjadi. Sebab menurutnya, harga perabot biasanya relatif stabil dan hanya naik pada momen-momen tertentu."Baru kali ini naik setinggi ini, dua kali lipat. Ini bukan sekadar naik lagi, tapi sudah ganti harga. Kalau dulu kenaikan bukan karena biaya produksi naik, tapi karena barang lagi ramai saja, biasanya naik Rp 3.000-5.000, habis itu turun lagi," terang Anggi.Namun uniknya, menurut Anggi, kenaikan harga setinggi ini justru terjadi pada produk buatan dalam negeri. Sementara perabot impor yang mayoritas berasal dari China relatif masih stabil dan hanya naik sekitar Rp 5.000 per produk."Sebenarnya kalau produk-produk dalam negeri memang naiknya benar-benar tinggi. Beda sama barang impor dari China. Barang China masih relatif, masih bisa kita jual," jelasnya."Kayak yang bahan aluminium itu produksi dalam negeri, naiknya gila-gilaan. Bahkan lebih mahal daripada stainless steel. Kalau stainless impor dari China, panci yang dulu Rp 100.000 jadi Rp 105.000 saja, nggak banyak. Teko listrik yang dulu Rp 65.000 sekarang Rp 70.000," lanjut Anggi.Menurutnya, fenomena ini terjadi karena harga produk perabot dari China masih relatif stabil dan hanya terdampak kenaikan ongkos kirim impor.Sementara untuk produk buatan dalam negeri, kenaikan harga terjadi karena bahan baku impor sudah lebih mahal akibat gangguan rantai pasok. Belum lagi kenaikan biaya energi di dalam negeri yang membuat ongkos produksi ikut naik.Ditambah penguatan dolar AS saat ini, seluruh bahan baku impor tersebut berpotensi mengalami kenaikan harga lebih tinggi lagi sehingga biaya produksi makin membengkak."Saya nggak tahu pasti penyebabnya apa, kalau yang digembar-gemborkan kan gara-gara perang. Bahan baku impor naik, BBM buat pabrik naik, jadinya dobel. Makanya barang plastik jauh naik harganya. Plastik kresek saja sekarang sudah naik banyak. Terus yang lagi ramai itu dolar, mungkin juga ngaruh kali ya," tutup Anggi.